Internasional

Terlalu Banyak Toko, Starbucks Bisa Terancam Bangkrut

News - Aria Yulistara, CNBC Indonesia
05 February 2018 13:29
Terlalu Banyak Toko, Starbucks Bisa Terancam Bangkrut
Jakarta, CNBC Indonesia — Banyak cara pebisnis untuk meningkatkan keuntungan termasuk memperbanyak toko. Namun pertumbuhan toko yang semakin meluas rupanya bisa berdampak negatif bagi pebisnis sendiri.

Seperti kasus Starbucks Corp yang dikabarkan terancam bangkrut karena persoalan toko dan harga. Para analis Wall Street mulai melihat dampak negatif dari harga yang terus naik serta toko Starbucks kian bertambah.

Di Amerika Serikat, Starbucks memiliki jumlah toko lebih banyak daripada restoran cepat saji McDonald’s. Jumlah kedai Starbucks 127 lebih banyak dibanding McDonald’s yakni terdapat 14.163 toko. Belum lagi harga yang dianggap tidak pernah tetap.


Kalangan analis Wall Street menilai Starbucks perlu mengatasi kedua permasalahan tersebut. Jumlah toko yang terlalu banyak bisa menimbulkan boomerang karena persaingan semakin ketat sehingga berisiko menurunkan penjualan.

Para eksekutif dari Starbucks pun mengakui kalau bisnis mereka sedang lesu. Bahkan mereka telah memprediksi penjualan semakin menurun di 2018, melihat keuntungan kedai kopi terbesar di dunia itu hanya naik 2% saat libur akhir tahun. Padahal dua tahun lalu, pertumbuhan bisnis Starbucks naik 9% pada momen serupa.

Pihak Starbucks mengklaim kalau pertumbuhan bisnis yang lesu dipengaruhi oleh penurunan bisnis ritel, perubahan progam hadiah, hambatan layanan melalui aplikasi smartphone, dan kurangnya promosi. Pertumbuhan toko dan harga tidak terlalu berpengaruh terhadap bisnisnya.

Meski demikian, sejumlah analis tak setuju dengan alasan tersebut. Analis Sara Senatore dari Bernstein menilai kalau pertumbuhan toko berlebihan bisa mengancam Starbucks pailit setelah melakukan penelitian tentang tren industri restoran. Pertumbuhan toko diakui memang bisa menambah nilai positif dari Starbucks tapi dapat menimbulkan boomerang.

Analis lainnya, John Zolidis selaku Pimpinan dari Quo Vadis Capital, setuju dengan Sara. “Kita percaya bahwa membuat toko baru menjadi masalah,” ujar John seperti dilansir dari Channel News Asia.

Sementara untuk persoalan harga, John meyakini kalau Starbucks memiliki harga jual tinggi. Dalam setahun, harga rata-rata produk Starbucks selalu meningkat. Berbeda dengan produk dari toko lainnya yang bisa menetap selama satu sampai dua tahun.

“Kita percaya kalau Starbucks menaikkan harga terlalu tinggi,” kata John lagi.

Sebagai contoh, McDonald’s dan Dunkin’ Donuts telah menahan harga minuman termasuk kopi selama dua tahun terakhir. Sementara Starbucks menaikkan harga sekitar 3,5% setiap tahun. Hal ini yang juga menjadi penyebab para pelanggan Starbucks mencoba produk lain di toko serupa dengan harga lebih murah. 

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading