Ini Alasan Munculnya Bisnis Taksi Helikopter

News - Raydion Subiantoro & Exist In Exist, CNBC Indonesia
21 January 2018 17:58
Utilitas helikopter perlu ditingkatkan di antaranya melalui layanan taksi helikopter.
  • Utilitas helikopter di Indonesia dinilai masih rendah yakni hanya 20 jam penerbangan per unit setiap bulannya.
  • Nilai kontrak helikopter dengan korporasi cukup tinggi hingga pernah menyentuh US$ 500 juta pada 2015, namun masih dinilai perlu untuk meningkatkan utilitas armada salah satunya dengan layanan taksi helikopter.
     
Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis taksi helikopter menjadi salah satu alternatif bagi maskapai atau pemilik dalam meningkatkan utilitas armada yang saat ini dinilai masih cukup rendah.

Asosiasi Maskapai Nasional atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyebut utilitas helikopter rata-rata 20 jam penerbangan per unit setiap bulannya. Adapun populasi helikopter komersial di Indonesia saat ini sebanyak 109 unit, di mana 21 unit beroperasi di Jakarta.

Sekjen Asosiasi Maskapai Nasional atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan selama ini helikopter di Indonesia lebih banyak digunakan untuk melayani korporasi berdasarkan kontrak jangka panjang.


“Helikopter biasanya kontrak jangka panjang dengan perusahaan migas, seperti untuk menuju pengeboran lepas pantai atau evakuasi medis. Layanan taksi helikopter ini tergolong baru dan memiliki potensi cukup besar karena sekarang jalanan macet, orang butuh cepat untuk bepergian,” jelasnya saat dihubungi, Minggu (21/01/2018).

Tengku mengatakan pemilik helikopter atau maskapai dapat bekerja sama dengan operator taksi helikopter guna meningkatkan utilitas ketika armada tidak digunakan.

Sementara itu, Ketua Penerbangan Carter INACA dan CEO-Founder PT Whitesky Aviation, Denon Berriklinsky Prawiraatmadja mengatakan pasar sewa helikopter untuk korporasi pada 2015 sebetulnya cukup besar yakni mencapai sekitar US$ 500 juta atau setara dengan Rp 6,75 triliun.

“Sepertinya belum pernah ada yang melakukan survei analisis, tapi kalau sewa helikopter untuk kontrak korporasi tahun 2015 mencapai US$ 500 juta,” katanya, Minggu (21/01/2018).

Adapun Denon menuturkan biaya perawatan helikopter juga relatif tinggi berkisar US$ 30.000 (Rp 405 juta) sampai US$ 60.000 (Rp 810 juta) per unit setiap bulannya.

“Perawatan helikopter banyak variannya, bergantung tipe services yang disepakati dengan produsen. Secara prinsip ada dua hal yang secara rutin harus dilakukan yaitu engine dan airframe. Untuk perawatan antara US$ 30.000 sampai US$ 60.000 per helikopter,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, Whitesky sejak akhir tahun lalu membuka bisnis taksi helikopter di Jakarta dan Bandung supaya utilitas meningkat  di tengah cukup tingginya biaya perawatan.

Selain Whitesky, Grab Indonesia pun berencana untuk meluncurkan layanan taksi helikopter yang diberi nama GrabHeli. Grab akan bekerja sama dengan sejumlah maskapai pemilik helikopter untuk mengantar perjalanan pelanggan khusus di Jakarta.  Tarif yang dipatok operator taksi helikopter biasanya dihitung berdasarkan setiap 15 menit penerbangan.
(ray/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading