Alarm Keseimbangan Primer dan Utang Rp 4.000 T

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 January 2018 15:16
Alarm Keseimbangan Primer dan Utang Rp 4.000 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Per Desember 2017, total utang pemerintah nyaris Rp 4.000 triliun atau tepatnya tercatat Rp 3.938,7 triliun. Utang ini 29,2% dari produk domestik bruto (PDB). Utang pemerintah terus menujukkan tren meningkat.

Pertumbuhan utang pemerintah dalam lima tahun ini cukup tinggi dengan rata-rata 14,87%. Hanya pada 2014 pertumbuhannya tidak sampai dua digit.

Alarm Keseimbangan Primer dan Utang Rp 4.000 TFoto: Tim Riset CNBC Indonesia



Namun di sisi lain, pertumbuhan utang disertai dengan pertumbuhan belanja modal. Sejak menanggalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada 2015, pemerintah memiliki ruang fiskal untuk meningkatkan belanja modal.

Alarm Keseimbangan Primer dan Utang Rp 4.000 TFoto: Tim Riset CNBC Indonesia


Meski ada catatan positif, tetapi pemerintah tetap harus waspada terkait utang. Sebab, keseimbangan primer (selisih antara penerimaan negara dikurangi belanja yang tidak termasuk pembayaran utang) masih defisit. Artinya, pemerintah harus berutang lagi untuk membayar utang-utang yang jatuh tempo.

Alarm Keseimbangan Primer dan Utang Rp 4.000 TFoto: Tim Riset CNBC Indonesia


Bila hal ini terus berlanjut, maka anggaran negara akan tergantung kepada utang untuk membiayai dirinya sendiri. Anggaran negara menjadi tidak berkelanjutan (sustainable) karena nasibnya bergantung kepada utang.

Oleh karena itu, jalan tengah yang bisa ditempuh adalah mengurangi beban utang bila memang diperlukan. Jalan ke arah sana sudah terbuka, dengan kenaikan peringkat surat utang Indonesia dari berbagai lembaga. Kenaikan peringkat akan membuat biaya utang semakin rendah.

Langkah kedua tentu meningkatkan penerimaan negara. Namun harus digarisbawahi peningkatan penerimaan negara harus dilakukan dengan cermat, terukur, dan tidak menimbulkan gejolak dalam perekonomian.

Mengingat kepatuhan pajak di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga, masih ada ruang untuk meningkatkan penerimaan negara.


TIM RISET CNBC INDONESIA (dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading