Defisit Perdagangan Membawa Berkah

News - Hidayat Setiaji & Chandra Gian Asmara & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 January 2018 08:42
Defisit Perdagangan Membawa Berkah
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan internasional edisi Desember 2017. Dalam data tersebut, ada beberapa hal yang dapat dicermati. Kesimpulannya bisa positif atau negatif, tergantung dari mana kita melihatnya.


Kita lihat angkanya terlebih dulu. Nilai ekspor Desember 2017 adalah US$ 14,79 miliar atau naik 6,93% (year on year). Sedangkan nilai impor Desember 2017 tercatat US$ 15,06 miliar, atau tumbuh 17,83% (year on year).

Pada Desember 2017, terjadi defisit neraca perdagangan sebesar US$ 27 juta. Namun untuk keseluruhan 2017, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus US$ 11,84 miliar.


Neraca perdagangan yang defisit pada Desember bisa menjadi sentimen negatif di pasar. Investor bisa melihatnya sebagai tanda bahwa ekonomi lesu karena ekspor tidak tumbuh cepat.

Dibandingkan November yang tumbuh 13,18%, pertumbuhan ekspor Desember memang melambat. Namun penyebabnya lebih karena faktor harga komoditas, terutama pertanian.

Pada Desember, nilai impor produk pertanian turun 23% YoY. Sementara ekspor barang migas naik 20,78%, industri pengolahan tumbuh 1,86%, dan pertambangan bertambah 28,45%. Dapat disimpulkan, produk pertanian menjadi penyebab ekspor tidak bisa tumbuh tinggi. 

Penurunan ekspor produk pertanian tidak lepas dari perkembangan harga komoditas. Tidak seperti pertambangan, harga komoditas pertanian cenderung turun pada 2017.

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) turun 22,88% dalam setahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah produksi yang berlimpah.


Reuters


Sementara harga karet turun sampai 40,9%. Penyebabnya adalah semakin banyaknya penggunaan karet sintetis untuk menggantikan karet alam.


Reuters

Harga kakao pun turun 14,17%. Seperti halnya CPO, harga kakao terpuruk akibat produksi yang melimpah.

Reuters


Bank Dunia memperkirakan harga komoditas pertanian akan bertahan pada 2018. Harga bahan baku seperti karet diperkirakan bergerak terbatas karena pasokan yang melimpah. Harga pangan sepertinya masih akan mengalami tekanan tahun ini.

Kinerja ekspor Indonesia masih tertolong oleh komoditas pertambangan, yang bisa menalangi anjloknya ekspor pertanian. Pada Desember 2017, barang ekspor yang nilainya naik signifikan adalah kelompok bijih, kerak, dan abu logam.

Sejumlah komoditas pertambangan memang mengalami kenaikan harga yang signifkan dalam sebulan terakhir. Misalnya harga tembaga naik 4,02%, nikel naik 10,91%, alumunium naik 9,53%, dan timah naik 1,15%.

Hidayat Setiaji


Secara tahunan, ekspor barang mineral juga berkontribusi besar. Ekspor barang pertambangan dan sejenisnya pada Desember 2017 tumbuh 28,45% secara YoY. Pertumbuhan ini mampu menahan ekspor masih tetap tumbuh di tengah ekspor produk pertanian yang terkontraksi 23%.

Lagi-lagi penyebabnya adalah harga. Dalam setahun terakhir, harga alumunium naik 30,14%. Sedangkan harga nikel naik 9,37% dan tembaga naik 29,89%.

Harga komoditas energi, mineral, dan pertambangan secara umum memang menujukkan kenaikan sepanjang 2017. Ini didorong oleh kenaikan harga minyak dunia, karena perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan permintaan dari Tiongkok. Selain itu, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga sepertinya patuh dalam mengurangi produksi.

Catatan yang perlu diwaspadai adalah ekspor produk manufaktur. Pada Desember 2017, ekspor manufaktur hanya tumbuh 1,86%. Artinya, Indonesia masih sangat bergantung kepada komoditas sebagai penopang ekspor. Bila kita ingin menikmati nilai tambah, maka tentu manufaktur harus digenjot.

Impor Barang Konsumsi

Sementara di sisi impor, barang konsumsi layak menjadi perhatian. Impor barang konsumsi pada Desember 2017 mencapai US$ 1,37 miliar atau setara dengan Rp 18,49 triliun, tertinggi sepanjang sejarah untuk hitungan per bulan.

Pada bulan lalu, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$ 1,37 miliar, yang merupakan capaian tertinggi sepanjang masa dan naik 5,1% YoY. Makanan dan minuman untuk rumah tangga mendominasi impor barang konsumsi, disusul bahan bakar dan pelumas, mobil penumpang, serta alat angkutan bukan untuk industri.

BPS


Kuatnya impor barang konsumsi dapat menjadi sinyal pulihnya daya beli masyarakat, setelah sepanjang 2017 tertekan menyusul pencabutan subsidi listrik daya 900VA yang menyasar 18,7 juta rumah tangga kelas menengah-bawah. Terlepas dari tekanan daya beli, optimisme masyarakat terhadap perekonomian domestik tetap tinggi, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang terus naik sepanjang 2017.

BI


Berkah Defisit Perdagangan

Dengan perkembangan ekspor-impor di atas, maka neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$ 27 juta pada Desember 2017. Sepanjang 2017, Indonesia hanya dua kali membukukan defisit neraca perdagangan yaitu pada Juli dan Desember.

BPS


Seperti disebutkan sebelumnya, impor yang tumbuh melampaui ekspor menyebabkan neraca perdagangan minus. Kencangnya laju impor didorong oleh barang konsumsi, yang meningkat jelang perayaan Imlek.

Berdasarkan data BPS, nilai impor jeruk mandarin pada Desember 2017 sebesar US$ 10,4 juta atau melonjak signifikan 1.727% dibandingkan dengan November sebesar US$ 570.200. Sementara itu, impor apel pada Desember tercatat sebesar US$ 53,1 juta atau tumbuh 106,8% dibandingkan dengan November US$ 25,7 juta. Adapun impor anggur sebesar US$ 44,1 juta atau naik 52,98% dari sebelumnya US$ 28,8 juta.

Tingginya impor barang konsumsi bisa menjadi tanda bahwa daya beli masyarakat sudah pulih. Tahun lalu, harus diakui daya beli turun akibat terpaan pencabutan subsidi listrik golongan 900 VA.

Mengingat konsumsi membentuk lebih dari 50% perekonomian Indonesia, maka kuatnya impor barang konsumsi pada bulan lalu dapat menjadi modal yang baik bagi pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Akhirnya, defisit neraca perdagangan pun dapat dilihat sebagai sesuatu yang positif bagi perekonomian Indonesia.  (aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading