Harga Beras dan Gabah Naik Akibat Produksi Padi Melemah

News - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
10 January 2018 14:50
Harga Beras dan Gabah Naik Akibat Produksi Padi Melemah
Periode 2010-2016, produksi padi nasional menunjukkan tren peningkatan cukup signifikan setiap tahunnya. Dalam kurun waktu itu, penurunan produksi padi tercatat hanya pada 2011 dan 2014. Adapun hingga akhir 2017, diperkirakan produksi pada nasional dapat mencapai angka 81,38 juta ton atau tumbuh 2,56% dibandingkan 2016.

Produksi Beras Nasional (Sumber: BPS hingga tahun 2015. Data 2016 dan 2017 dari data Kementan, diolah Tim Riset CNBC)Foto: CNBC Indonesia
Produksi Beras Nasional (Sumber: BPS hingga tahun 2015. Data 2016 dan 2017 dari data Kementan, diolah Tim Riset CNBC)


Apabila dilihat dari persebaran geografis, produksi padi Indonesia masih terpusat di Jawa dengan kontribusi mencapai 48,56%. Tiga provinsi sebagai produsen padi terbesar adalah Jawa Timur sebanyak 13,63 juta ton, lalu Jawa Barat sebanyak 12,54 ton dan Jawa tengah yakni 11,47 juta ton. 


Lima Besar Provinsi dengan Produksi Padi Tertinggi. Angka 2017 merupakan perkiraan hasil Rapat Koordinasi Kementerian Pertanian dan BPS (Sumber: Kementan, diolah Tim Riset CNBC)Foto: CNBC Indonesia
Lima Besar Provinsi dengan Produksi Padi Tertinggi. Angka 2017 merupakan perkiraan hasil Rapat Koordinasi Kementerian Pertanian dan BPS (Sumber: Kementan, diolah Tim Riset CNBC)


Volume produksi beras di tiga besar produsen yaitu Jatim, Jabar, dan Jateng sebetulnya cukup fluktuatif sepanjang 2010 – 2015, namun pada 2016 ketiga provinsi kompak mengalami peningkatan dan turut mengerek produksi padi nasional sebesar 5,25% tahun itu.


Produksi Beras di 3 besar Provinsi produsen padi (Sumber: BPS hingga tahun 2015. Data 2016 dan 2017 dari rilis data Kementan, diolah Tim Riset CNBC)Foto: CNBC Indonesia
Produksi Beras di 3 besar Provinsi produsen padi (Sumber: BPS hingga tahun 2015. Data 2016 dan 2017 dari rilis data Kementan, diolah Tim Riset CNBC)


Namun, memasuki 2017, produksi di tiga besar provinsi penghasil padi itu diperkirakan turun. Produksi di Jatim turun 3,73%, Jabar sebesar 0,18%, dan Jateng 0,46%.

Apabila melihat data yang dirilis Kementerian Pertanian, sebenarnya luas panen di ketiga provinsi tersebut cenderung mengalami peningkatan. Hanya saja, dari sisi produktivitas  ketiga provinsi produsen padi terbesar di Indonesia ini secara bersamaan mengalami penurunan.

Penurunan produktivitas padi di tiga provinsi ini kemudian berdampak pada turunnya produktivitas beras nasional 2017 ke level 51,55 kwintal per ha atau melemah 1,55% dibandingkan dengan 2016 sebanyak 52,36 kwintal per ha.

Kementerian Pertanian menyatakan penurunan produktivas padi pada 2017 salah satunya akibat serangan virus tanaman padi yaitu virus kerdil hampa rice ragged stunt virus (RRSV) dan virus kerdil rumput rice grassy stunt virus (RGSV) di penghujung tahun yang melanda sejumlah titik di Jawa.

Adapun kelembaban yang tinggi di beberapa bulan terakhir 2017 menjadi faktor pendorong berkembangnya hama penyakit tersebut.

Akibat dari fenomena berkurangnya produksi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, harga gabah pada awal tahun ini terpantau naik menjadi kisaran Rp 6.200-6.800/kg, dan menyebabkan beras tidak mungkin dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi Rp 9.450/kg.

Kondisi tersebut, seolah mendorong produsen beras menggeser pola produksinya dari beras medium ke beras premium yang harganya lebih tinggi, untuk menghindari kerugian. Alhasil, stok beras medium berkurang dan memicu kenaikan harga produk tersebut.

Per Juli 2017, Bulog mencatat stok beras masih sebanyak 1,55 juta ton namun hingga akhir Desember 2017 turun menjadi sekitar 950.000 ton.





(ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading