Rule of 72: Cara Menghitung Kapan Investasi Jadi 2 Kali Lipat

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
22 September 2026 14:55
Rule of 72: Cara Menghitung Kapan Investasi Jadi 2 Kali Lipat
Foto: Ilustrasi Investasi. (Dok. freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam investasi, imbal hasil atau return menjadi salah satu faktor yang memengaruhi seberapa cepat nilai dana berkembang. Ketika hasil investasi terus diinvestasikan kembali, pertumbuhan dana dapat menghasilkan efek compounding atau pertumbuhan majemuk.

Salah satu cara sederhana untuk memperkirakan berapa lama nilai investasi menjadi dua kali lipat adalah Rule of 72.

Rule of 72 merupakan aturan praktis untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan agar suatu investasi menggandakan nilainya berdasarkan tingkat imbal hasil yang diharapkan. Investor.gov menjelaskan bahwa caranya adalah membagi angka 72 dengan tingkat imbal hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, tingkat imbal hasil 9% memberikan perkiraan waktu penggandaan sekitar delapan tahun.

Apa Itu Rule of 72?

Rule of 72 adalah aturan praktis atau rule of thumb untuk memperkirakan doubling time, yaitu waktu yang dibutuhkan agar nilai investasi menjadi dua kali lipat.

Rumus sederhananya:

Waktu menjadi 2 kali lipat = 72 ÷ imbal hasil tahunan (%)

Sebagai contoh, jika tingkat imbal hasil yang diasumsikan sebesar 8% per tahun:

72 ÷ 8 = 9 tahun

Artinya, berdasarkan pendekatan Rule of 72, investasi diperkirakan membutuhkan sekitar sembilan tahun untuk menjadi dua kali lipat.

Perhitungan tersebut merupakan estimasi dengan asumsi tingkat pertumbuhan tahunan berlangsung secara majemuk, bukan jaminan bahwa nilai investasi benar-benar akan menjadi dua kali lipat tepat setelah sembilan tahun.

Cara Menghitung Rule of 72 Berdasarkan Imbal Hasil

Penggunaan Rule of 72 cukup sederhana. Investor hanya perlu memasukkan tingkat imbal hasil tahunan yang diasumsikan ke dalam rumus.

Berikut beberapa contohnya:

Seluruh angka pada tabel tersebut merupakan hasil pendekatan Rule of 72, bukan hasil perhitungan eksak.

Misalnya, asumsi imbal hasil 6% menghasilkan perkiraan waktu penggandaan 12 tahun. Sementara asumsi 12% menghasilkan sekitar enam tahun.

Secara sederhana, semakin tinggi tingkat pertumbuhan yang diasumsikan, semakin singkat perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menggandakan dana.

Mengapa Imbal Hasil Memengaruhi Waktu Penggandaan?

Rule of 72 berkaitan dengan konsep pertumbuhan majemuk, yakni ketika hasil yang telah diperoleh ikut menghasilkan hasil pada periode berikutnya.

Investor.gov menjelaskan compound interest sebagai bunga yang diperoleh atas pokok dana dan bunga yang telah terakumulasi. Karena hasil sebelumnya ikut menjadi dasar perhitungan berikutnya, pertumbuhan dana dapat semakin besar seiring berjalannya waktu.

Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki dana Rp100 juta dan mengasumsikan pertumbuhan majemuk sebesar 8% per tahun. Berdasarkan Rule of 72, dana tersebut diperkirakan menjadi sekitar Rp200 juta dalam sembilan tahun.

Angka tersebut merupakan ilustrasi matematis. Dalam investasi nyata, tingkat return dapat berubah dari satu tahun ke tahun berikutnya sehingga waktu penggandaan aktual bisa berbeda.

Apakah Besarnya Modal Awal Memengaruhi Rule of 72?

Tidak, selama tingkat pertumbuhan dan asumsi lainnya sama.

Misalnya, dana Rp10 juta dan Rp100 juta sama-sama diasumsikan tumbuh 8% per tahun tanpa setoran atau penarikan tambahan.

Keduanya memiliki perkiraan waktu penggandaan yang sama, yakni sekitar sembilan tahun.

Perbedaannya hanya pada nominal:

  • Rp10 juta menjadi sekitar Rp20 juta.

  • Rp100 juta menjadi sekitar Rp200 juta.

Dengan demikian, Rule of 72 terutama menunjukkan hubungan antara tingkat pertumbuhan dan waktu, bukan besarnya modal awal.

Rule of 72 Bisa Dipakai untuk Menghitung Imbal Hasil

Rule of 72 juga dapat digunakan secara terbalik untuk memperkirakan tingkat imbal hasil yang dibutuhkan agar dana menjadi dua kali lipat dalam periode tertentu.

Rumus sederhananya:

Imbal hasil tahunan (%) = 72 ÷ target waktu dalam tahun

Misalnya, seseorang ingin mengetahui tingkat pertumbuhan yang secara matematis dibutuhkan agar dana menjadi dua kali lipat dalam enam tahun:

72 ÷ 6 = 12%

Artinya, asumsi pertumbuhan yang digunakan adalah sekitar 12% per tahun.

Contoh lainnya:

Perhitungan tersebut membantu menunjukkan hubungan matematis antara target waktu dan tingkat pertumbuhan yang diperlukan.

Namun, angka tersebut bukan berarti investor pasti dapat memperoleh return sebesar itu dari instrumen investasi tertentu.

Contoh Rule of 72 untuk Dana Rp100 Juta

Misalnya seseorang memiliki dana Rp100 juta dan tidak melakukan setoran maupun penarikan tambahan selama periode investasi.

Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun:

72 ÷ 5 = 14,4 tahun

Artinya, Rule of 72 memperkirakan waktu penggandaan sekitar 14,4 tahun.

Jika asumsi pertumbuhannya 8%:

72 ÷ 8 = 9 tahun

Sedangkan jika menggunakan asumsi 10%:

72 ÷ 10 = 7,2 tahun

Contoh tersebut menunjukkan bahwa perubahan tingkat imbal hasil yang diasumsikan dapat mengubah estimasi waktu penggandaan secara signifikan.

Bagaimana Jika Imbal Hasil Investasi Berubah Setiap Tahun?

Dalam kondisi nyata, return investasi tidak harus sama setiap tahun. Karena itu, Rule of 72 tidak sebaiknya dipahami sebagai prediksi bahwa investasi akan menghasilkan persentase return yang identik setiap tahun.

Misalnya, sebuah investasi mengalami kenaikan pada satu tahun dan penurunan pada tahun berikutnya. Dalam kondisi seperti itu, rata-rata aritmetika return tahunan tidak otomatis menunjukkan tingkat pertumbuhan dana yang sebenarnya karena hasil investasi mengalami efek compounding.

FINRA menjelaskan bahwa annualized return digunakan untuk melihat tingkat pengembalian tahunan selama suatu periode dan memperhitungkan efek pertumbuhan majemuk. FINRA juga membedakan return tahunan dari angka rata-rata sederhana yang dapat memberikan gambaran berbeda.

Karena itu, Rule of 72 lebih tepat digunakan sebagai alat estimasi berdasarkan tingkat pertumbuhan tahunan yang diasumsikan, bukan sebagai prediksi pasti untuk portofolio dengan return yang berubah-ubah.

Apakah Setoran Tambahan Memengaruhi Hasil Rule of 72?

Ya.

Perhitungan sederhana Rule of 72 mengasumsikan satu modal awal yang dibiarkan berkembang. Jika investor menambahkan dana secara berkala, nilai portofolio dapat mencapai target nominal lebih cepat karena terdapat tambahan modal.

Sebaliknya, penarikan dana dapat mengubah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target.

Karena itu, Rule of 72 tidak dirancang untuk menggantikan simulasi investasi yang memasukkan modal awal, setoran berkala, penarikan, jangka waktu, dan tingkat imbal hasil secara bersamaan.

Investor.gov menyediakan kalkulator bunga majemuk yang memang memungkinkan pengguna memasukkan investasi awal, kontribusi atau penarikan bulanan, jangka waktu, estimasi tingkat bunga, dan frekuensi compounding.

Apakah Rule of 72 Akurat?

Rule of 72 bukan formula yang memberikan hasil waktu penggandaan secara tepat. SEC dan Investor.gov menyebutnya sebagai rule of thumb, atau aturan praktis untuk mendapatkan perkiraan cepat.

Untuk tingkat pertumbuhan tahunan yang konstan, tanpa setoran atau penarikan tambahan, waktu penggandaan secara matematis dapat dihitung lebih presisi dengan rumus:

T = ln(2) ÷ ln(1 + r)

Dalam rumus tersebut, T adalah waktu penggandaan, sedangkan r adalah tingkat pertumbuhan dalam bentuk desimal.

Sebagai contoh, pada tingkat pertumbuhan 8%:

Rule of 72: 72 ÷ 8 = 9 tahun

Sementara perhitungan matematis yang lebih presisi menghasilkan sekitar 9,01 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa Rule of 72 dapat berguna untuk memperoleh perkiraan dengan cepat, sedangkan perhitungan yang lebih rinci dapat digunakan ketika presisi lebih dibutuhkan.

Kapan Rule of 72 Tidak Tepat Digunakan?

Rule of 72 memiliki sejumlah keterbatasan.

Pertama, tingkat pertumbuhan harus positif.

Rule of 72 tidak dapat digunakan dengan cara membagi 72 dengan return 0% karena pembagian dengan nol tidak terdefinisi. Return negatif juga tidak menggambarkan kondisi pertumbuhan menuju penggandaan dana.

Kedua, perubahan return dapat membuat hasil aktual berbeda.

Formula sederhana ini menggunakan satu angka tingkat pertumbuhan sebagai asumsi. Jika return investasi berubah secara signifikan dari tahun ke tahun, waktu penggandaan aktual dapat berbeda dari hasil Rule of 72.

Ketiga, setoran dan penarikan tambahan tidak diperhitungkan.

Arus kas tambahan mengubah nilai investasi dari waktu ke waktu sehingga perhitungannya tidak lagi sesederhana modal awal yang tumbuh sendiri.

Keempat, biaya dan pajak dapat memengaruhi hasil bersih.

Return yang digunakan sebagai asumsi belum tentu sama dengan pertumbuhan dana setelah memperhitungkan biaya investasi dan pajak yang berlaku.

Kelima, inflasi tidak diperhitungkan.

Rule of 72 pada dasarnya digunakan untuk memperkirakan pertumbuhan nilai secara nominal. Dana yang menjadi dua kali lipat secara nominal belum tentu memiliki daya beli dua kali lipat.

Apakah Rata-Rata Return Bisa Langsung Dipakai?

Tidak selalu.

Ketika investasi mengalami naik-turun setiap tahun, rata-rata aritmetika return belum tentu menggambarkan pertumbuhan dana yang sebenarnya. Hal ini karena hasil investasi pada satu periode memengaruhi basis pertumbuhan pada periode berikutnya.

Sebagai contoh sederhana, dana Rp100 juta yang naik 20% menjadi Rp120 juta kemudian turun 20% tidak kembali menjadi Rp100 juta, melainkan menjadi Rp96 juta.

Karena itu, ketika melihat kinerja investasi selama beberapa tahun, annualized return dapat memberikan gambaran yang lebih relevan mengenai pertumbuhan tahunan majemuk dibandingkan sekadar mengambil rata-rata aritmetika return tahunan, dengan catatan konteks arus kas perlu diperhatikan.

Untuk Rule of 72 sendiri, angka yang dimasukkan sebaiknya dipahami sebagai asumsi tingkat pertumbuhan tahunan, bukan rata-rata return yang otomatis menjamin hasil penggandaan tertentu.

Rule of 72 dan Inflasi

Rule of 72 juga dapat digunakan sebagai ilustrasi untuk melihat kapan suatu nilai dapat meningkat dua kali lipat pada tingkat inflasi tertentu.

Misalnya, jika tingkat inflasi diasumsikan 4% per tahun:

72 ÷ 4 = 18 tahun

Secara sederhana, angka tersebut menunjukkan perkiraan waktu sekitar 18 tahun agar tingkat harga berlipat dua jika pertumbuhan 4% berlangsung secara konstan.

Namun, tingkat inflasi aktual dapat berubah dari tahun ke tahun sehingga hasil tersebut juga hanya merupakan pendekatan.

Rule of 72 Bukan Jaminan Imbal Hasil

Rule of 72 hanya menunjukkan hubungan matematis antara tingkat pertumbuhan dan waktu.

Jika angka 8% dimasukkan ke dalam rumus, itu tidak berarti investasi yang dipilih pasti menghasilkan return 8% setiap tahun.

Investor.gov dan SEC juga menekankan bahwa Rule of 72 digunakan untuk memperoleh perkiraan, sementara hasil investasi nyata dapat berbeda.

Karena itu, hasil Rule of 72 sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk membuat ilustrasi dan memahami dampak tingkat imbal hasil terhadap pertumbuhan dana, bukan sebagai jaminan keuntungan.

Kesimpulan

Rule of 72 adalah cara sederhana untuk memperkirakan berapa lama nilai investasi menjadi dua kali lipat berdasarkan tingkat imbal hasil tahunan yang diasumsikan mengalami pertumbuhan majemuk.

Rumusnya:

72 ÷ imbal hasil tahunan (%) = perkiraan waktu menjadi 2 kali lipat

Rumus tersebut juga dapat digunakan secara terbalik:

72 ÷ target waktu = perkiraan imbal hasil tahunan

Rule of 72 berguna sebagai alat hitung cepat, tetapi hasilnya tetap merupakan perkiraan. Return investasi dapat berubah dari waktu ke waktu, sementara setoran atau penarikan tambahan, biaya, pajak, dan inflasi dapat memengaruhi hasil sebenarnya.

Dengan demikian, Rule of 72 paling tepat digunakan untuk memahami hubungan antara imbal hasil, waktu, dan pertumbuhan dana, bukan sebagai jaminan bahwa investasi akan memberikan tingkat return tertentu atau pasti berlipat ganda dalam jangka waktu yang dihitung.

Disclaimer: Perhitungan Rule of 72 dalam artikel ini merupakan estimasi untuk tujuan edukasi dan bukan jaminan hasil investasi. Imbal hasil aktual dapat berbeda karena kondisi pasar, biaya, pajak, inflasi, serta faktor lainnya.

(dag/dag) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Punya Uang Rp 1 Juta, Anak Buah Purbaya Sarankan Investasi di Sini!


Most Popular
Features