IHSG & Rupiah Terus Terpuruk, Pemilik Unitlink Siap-Siap Top Up

Achmad Aris,  CNBC Indonesia
20 May 2026 13:40
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Keluarnya modal asing secara besar-besaran membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok bersamaan.

Berdasarkan data refinitiv per 19 Mei 2026, laju IHSG sejak awal tahun telah terkoreksi hingga 2.351 poin atau 26,88% menjadi 6.396. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah terdepresiasi 6,36% ke level Rp17.640 per dolar AS.

Di tengah situasi bearish tersebut, Anda yang memiliki produk asuransi unitlink perlu untuk mengecek kondisi polis asuransi. Pasalnya, unit fund unitlink Anda pasti terdampak anjloknya pasar saham dan rupiah. Sebelum terlambat dan menyesal, Anda perlu mengevaluasi dan mengatur ulang strategi dalam pengelolaan unit fund. 

Berbeda dengan produk asuransi konvensional, asuransi unitlink memiliki ketergantungan tinggi terhadap performa pasar modal. Ketika IHSG turun dan rupiah terdepresiasi, bukan hanya hasil investasi yang tergerus, tetapi ketahanan dan keberlanjutan polis juga bisa ikut terancam.

Dan biasanya, banyak nasabah yang tidak menyadari bahwa polis unitlink bisa lapse (batal otomatis/mati) meskipun iuran premi rutin dibayar.

Proteksi dan Investasi

Dalam struktur premi asuransi unitlink, uang premi dibagi menjadi dua yaitu untuk biaya akuisisi & proteksi dan untuk alokasi investasi di pasar modal. Seiring berjalannya waktu, porsi biaya asuransi biasanya akan meningkat dimana pada kondisi market normal atau bullish, kenaikan tersebut akan dikompensasi dari return investasi yang dihasilkan. 

Koreksi pasar saham yang berlangsung terus menerus bisa menggerus nilai unit investasi sehingga saldo investasi Anda bisa habis dan tidak lagi mencukupi untuk menalangi biaya proteksi (cost of insurance/COI) yang cenderung naik seiring bertambahnya usia nasabah.

Jika polis mengalami lapse karena saldo yang tersedia tidak cukup untuk membayar COI, seluruh benefit proteksi asuransi baik kesehatan maupun jiwa Anda akan hangus meskipun sudah membayar premi selama bertahun-tahun. Dalam situasi seperti ini, pilihannya adalah melakukan switching portofolio investasi dan top up dana agar polis Anda tidak mengalami lapse.

Untuk menghindari lapse, nasabah bisa melakukan mitigasi dengan dua strategi yaitu pertama switching fund. Misalnya, dari semula 100% alokasi saham menjadi kombinasi 30% saham, 50% obligasi, dan 20% pasar uang.

Tujuan switching fund adalah mengurangi volatilitas, menjaga nilai tunai, dan memperpanjang ketahanan polis. Dalam ilustrasi, switching fund bisa mengurangi return negatif yang sebelumnya -10% bisa ditekan menjadi -3%.

Kedua, strategi top up saat pasar sedang crash. Saat market turun, harga unit investasi menjadi lebih murah sehingga dana tambahan (top up) dapat membeli unit lebih banyak. Dalam simulasi, strategi top up saat market bearish bisa meningkatkan nilai investasi akhir karena saat market rebound hasil recovery lebih besar.

Produk asuransi unitlink memang bukan produk asuransi yang statis sehingga nasabah dituntut untuk aktif mengecek saldo investasi dalam rangka memonitor sustainability polis dan menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan kondisi market.

Pasalnya, ketika rupiah melemah dan IHSG bearish berkepanjangan, ancaman terbesar bukan sekadar kerugian investasi tapi hilangnya perlindungan asuransi akibat nilai tunai polis yang habis tergerus biaya polis.

(ach/ach) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Menangkap Katalis BUMN & Danantara: Panduan Memilih Aplikasi Saham


Most Popular
Features