Lampung Financial Festival Banjir Tips Investasi & Kelola Keuangan
Bandar Lampung, CNBC Indonesia - Lampung Financial Festival 2026 diinisiasi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk meningkatkan level literasi keuangan masyarakat yang masih tertinggal 24 poin dibanding tingkat inklusi keuangan.
Berdasarkan survei yang baru saja dirilis oleh OJK, LPS, dan BPS, indeks inklusi keuangan nasional di level 93,6%. Namun demikian tingkat literasi keuangan nasional di level 69,6%. Kolaborasi antara pembuat kebijakan dan para pelaku di sektor keuangan pun menjadi sangat penting untuk megejar gap tersebut.
Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS, Doddy Zulverdi memberikan informasi ciri-ciri bank sehat kepada para peserta Lampung Financial Festival 2026. Sehingga masyarakat bisa lebih yakin ketika hendak menempatkan dananya di instrumen simpanan perbankan, baik deposito maupun tabungan.
Pertama, masyarakat bisa lihat dari suku bunga yang ditawarkan ke nasabah. Jika bank menawarkan suku bunga berlebihan atau tinggi, bank dinilainya memiliki risiko dan kurang sehat. Sementara bank yang menawarkan bunga tidak tinggi, bank tersebut dinilainya sangat sehat.
Selain itu, bank dengan kondisi sehat, rasio likuiditasnya terjaga atau memiliki dana kas besar. Bank sehat, kata Doddy juga memiliki rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang kecil.
"Kalau pinter akan kelihatan rasio keuangannya. Rasio likuiditasnya kelihatan. Kalau adek-adek masuk bank dan ditawarkan bunga tinggi banget hati-hati. Nah salah satu indikatornya bandingkan dengan tingkat bunga penjaminan LPS, sekarang 3,75%. Tapi bukan berarti kalau di atas bunga penjaminan itu tidak boleh simpan di bank tersebut, tapi hanya tidak dijamin saja," terangnya dalam acara hari kedua Lampung Financial Festival 2025 di Novotel Bandar Lampung, Minggu (6/9/2026).
Rasa aman dalam berinvestasi memang menjadi hal yang sangat dicari oleh masyarakat, terutama dalam kondisi ekonomi saat ini yang masih bergejolak dan terimbas oleh ekonomi global dan geopolitik. instrumen-instrumen investasi yang dinilai sangat aman bisa menjadi alternatif bagi masyarakat ketika hendak melakukan investasi.
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin mengungkapkan tiga instrumen investasi aman yang bisa menjadi pilihan masyarakat, terutama bagi generasi muda atau gen Z. Ketiga instrumen tersebut, yakni Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito.
Herman menegaskan, SBN adalah instrumen investasi yang aman karena diterbitkan dan dijamin oleh negara. "Negara kita termasuk investment grade. Investment grade itu artinya negara lain di dunia itu memandang negara kita aman, bisa bayar utang," tambahnya.
Berdasarkan credit rating Standard & Poor's, lembaga pemeringkat global tersebut mempertahankan rating Indonesia di BBB dengan outlook stable. Artinya SBN adalah instrumen yang aman.
"Jadi kalau mau yang aman bisa emas, bisa SBN atau tadi tabungan atau deposito di bank. Kalau di bank karena dijamin oleh LPS," kata Herman lagi.
Terkair emas, dinilai merupakan salah satu pilihan aset lindung nilai yang bisa dipilih masyarakat. Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat mengungkapkan kiat-kiat penting dalam berinvestasi emas sebagai aset pilihan di masa depan. Dia mengatakan, fungsi utama emas bukan hanya investasi, melainkan aset safe haven, yang bisa melindungi aset dari nilai inflasi.
"Jadi emas memiliki dua fungsi, pertama safe haven asset, kedua alat investasi. Konsep dasar dari emas itu adalah safe haven asset. Jadi pelindung aset kita," tekan Rahmat.
Sementara terkait dengan pengelolaan keuangan, para peserta Lampung Financial Festival 2026 yang mayoritas merupakan siswa sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, mendapat banyak edukasi dan wejangan dari para bankir yang hadir mengisi kursi panelis di sesi "The Bankers: Young, Smart and Ready".
Direktur Finance and Strategy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Achmad Royadi menilai kemudahan teknologi membuat generasi muda membelanjakan uang secara berlebih hanya untuk keinginan semata daripada kebutuhan utamanya.
Melihat hal itu, ia pun menyarankan agar generasi mudah bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan. Langkah ini dinilai penting untuk mencapai kebebasan finansial di masa yang akan datang.
Dirinya juga menyarankan generasi muda untuk bisa membuka tabungan dan melakukan investasi. Meski tidak mudah, setidaknya ia berharap generasi muda bisa menyisihkan penghasilannya meskipun sedikit.
"Bahkan kalau perlu untuk membeli dana pensiun. Jadi harus imbangin antara kemudahan digital untuk menghabiskan uang sama kemudahan digital untuk investi, tabungan, bahkan asuransi. Prinsipnya itu harus bisa mengalokasikan," tukasnya.
Setali tiga uang, Direktur Sales and Distribution PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Anton Sukarna bilang, sebagai generasi muda, gen Z harus bisa mulai membangun kebiasaan finansial. Salah satunya adalah menerapkan rem finansial.
"Ada rem internalnya. Sama kayak motor, ada remnya. Kalau motor nggak ada remnya, kira-kira gimana? Bahaya. Kebiasaan finansial juga kalau nggak ada remnya, bahaya," tuturnya.
Tidak ketinggalan, Anton juga menjadikan investasi sebagai salah satu kebiasaan finansial yang harus dibangun sejak dini.
"Biasakan membangun kebiasaan investasi. Kalau punya uang, biasakan sisihkan dulu. Supaya kalau kita perlu suatu saat, uangnya ada," ucapnya.
Dirimya juga menekankan untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi. "Tidak ada investasi, saya ingatkan ya, tidak ada investasi yang menawarkan keuntungan setinggi langit, ngga ada. Kalau setinggi itu keuntungannya, dia tidak akan pernah bagi-bagi sama kita, betul gak? Investasi itu ada batasnya," terang Anton lagi.
Di lain pihak, Regional CEO Wilayah 03 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bagus Ardani Sutoyo menegaskan benerapa hal utama agar bijak dalam mengelola keuangan. Pertama, harus bisa menyiapkan keuangan kita dengan mulai menyisihkan uang untuk ditabung.
Kemudian, bagaimana masyarakat bisa mengelola keuangan dengan bijak dengan menyiapkan rencana keuangan, termasuk terkait kebutuhan pokok harian dan rencana akan kebutuhan lain yang harus dipenuhi.
"Nah kemudian hati-hati ya dengan kebiasaan konsumtif belanja-belanja yang sebenarnya tidak kita perlukan. Mungkin itu ya yang teman-teman harus pedomani bagaimana kita bijak dalam mengelola keuangan," tegasnya.
Sementara itu, Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hari Mulyana menjelaskan cara menghindari modus-modus penipuan di sektor perbankan dan keuangan. Menurutnya, sekarang banyak penawaran yang beragam di media sosial, sehingga nasabah harus lebih selektif untuk menghindari transaksi yang bisa merugikan.
"Terkait dengan OTP (one-time password), jadi jangan pernah memberikan OTP ke orang lain, termasuk ke pasangan kita sendiri. Kedua kalau di kartu kredit itu tiga digit belakang kartu. Kita sama-sama jaga rekening kita semua, kita yang mengelola risiko, kita yang mengendalikannya. Jadi apapun yang ada," paparnya.Â