Dampak Buruk Pamer Kekayaan yang Bisa Merugikan Diri Sendiri

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
09 July 2026 14:03
Dampak Buruk Pamer Kekayaan yang Bisa Merugikan Diri Sendiri
Foto: Ilustrasi Orang Terkaya. (Dok, Pixabay)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Membagikan pencapaian di media sosial merupakan hal yang wajar. Namun, ketika unggahan lebih berfokus pada memamerkan kekayaan, barang mewah, atau gaya hidup glamor demi mendapatkan pengakuan, perilaku tersebut dikenal sebagai flexing atau pamer kekayaan.

Di balik kesan mewah yang ditampilkan, kebiasaan flexing dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Tidak hanya meningkatkan risiko menjadi target kejahatan, perilaku ini juga berpotensi memengaruhi hubungan sosial, mendorong gaya hidup konsumtif, hingga mengganggu kesehatan mental dan reputasi seseorang.

Oleh karena itu, penting untuk memahami risiko flexing agar lebih bijak dalam membagikan aktivitas di media sosial. Berikut beberapa dampak negatif pamer kekayaan yang perlu diketahui.

Menarik Orang yang Punya Motif Tersembunyi

Salah satu risiko dari kebiasaan pamer adalah menarik perhatian orang yang memiliki kepentingan tertentu. Tidak semua orang yang mendekat benar-benar menghargai Anda sebagai pribadi. Sebagian mungkin tertarik karena melihat gaya hidup, aset, atau kekayaan yang ditampilkan.

Akibatnya, akan lebih sulit membedakan mana hubungan yang tulus dan mana yang hanya didasari keuntungan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas pertemanan, hubungan bisnis, hingga kehidupan pribadi.

Berisiko Jadi Target Kejahatan

Memamerkan barang mewah, saldo rekening, kendaraan mahal, atau lokasi liburan secara berlebihan di media sosial dapat membuka peluang bagi pelaku kejahatan. Informasi yang dibagikan secara terbuka bisa dimanfaatkan untuk mengetahui kebiasaan, lokasi, hingga aset yang dimiliki seseorang.

Risiko yang mungkin muncul tidak hanya pencurian, tetapi juga penipuan, pemerasan, peretasan akun, hingga pencurian identitas. Karena itu, penting untuk lebih bijak dalam membagikan informasi pribadi maupun aset berharga di internet.

Memicu Kecemburuan Sosial

Flexing juga dapat memunculkan rasa iri atau kecemburuan sosial, terutama jika dilakukan secara berlebihan. Orang lain bisa merasa tertinggal, minder, atau membandingkan kondisi finansialnya dengan apa yang mereka lihat di media sosial.

Meski tidak semua orang bereaksi demikian, konten yang terlalu menonjolkan kemewahan berpotensi menciptakan persepsi negatif, memicu konflik, hingga mengganggu hubungan dengan teman, keluarga, atau rekan kerja.

Mendorong Gaya Hidup Konsumtif

Keinginan untuk terus terlihat sukses sering kali membuat seseorang membeli barang di luar kemampuan finansialnya. Tidak sedikit orang yang rela berutang, menggunakan layanan paylater, atau menghabiskan tabungan hanya demi mempertahankan citra di media sosial.

Jika kebiasaan ini terus dilakukan, kondisi keuangan bisa terganggu. Alih-alih membangun kekayaan, seseorang justru berisiko mengalami masalah finansial karena lebih fokus pada penampilan daripada kesehatan keuangannya.

Mengganggu Kesehatan Mental

Flexing tidak hanya berdampak pada orang yang melihatnya, tetapi juga pada pelakunya. Tekanan untuk terus mempertahankan citra sebagai orang yang sukses atau kaya dapat menimbulkan stres, kecemasan, hingga rasa takut jika tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Di sisi lain, audiens yang terus-menerus melihat unggahan kemewahan juga rentan melakukan perbandingan sosial. Hal ini dapat memicu rasa tidak percaya diri, ketidakpuasan terhadap hidup, bahkan menurunkan kesejahteraan mental.

Bisa Merusak Reputasi dan Kepercayaan

Dalam lingkungan profesional maupun bisnis, kebiasaan flexing yang berlebihan dapat memengaruhi cara orang lain memandang seseorang. Gaya hidup yang terlalu sering dipamerkan berpotensi menimbulkan anggapan bahwa seseorang lebih mementingkan pencitraan daripada kompetensi atau integritas.

Bagi tokoh publik, pejabat, maupun pelaku usaha, pamer kekayaan juga dapat memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai asal-usul harta yang dimiliki, terutama jika tidak sejalan dengan profil pekerjaan atau penghasilan yang diketahui publik.

Meski tidak selalu berarti ada pelanggaran, persepsi negatif tersebut dapat mengurangi tingkat kepercayaan dan merusak reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

(dag/dag) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features