Dana Yang Gak Boleh Dipakai Untuk Investasi, Calon Investor Wajib Tahu
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Banyak masyarakat Indonesia mulai berinvestasi dengan tujuan meningkatkan kekayaan dengan menjual aset dengan harga yang lebih tinggi atau dari dividen. Beragam instrumen investasi pun dipilih, mulai dari saham, reksa dana, obligasi, emas, hingga aset kripto, sesuai dengan profil risiko dan target keuangan masing-masing individu.
Dana hasil investasi ini umumnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan jangka panjang, seperti pembelian aset, biaya pendidikan, liburan, hingga persiapan dana pensiun di hari tua.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua dana layak dialokasikan ke instrumen investasi tersebut. Prinsip dasar yang wajib dipahami adalah penggunaan uang dingin, yakni dana yang apabila mengalami fluktuasi nilai, penurunan, atau bahkan kerugian, tidak akan mengganggu kebutuhan pokok maupun operasional hidup sehari-hari.
Oleh karena itu, sebelum menempatkan dana ke saham, reksa dana, atau instrumen investasi lainnya, setiap individu perlu memahami pengelompokan keuangan pribadi secara tepat. Tanpa perencanaan yang matang, investasi justru berpotensi menjadi beban finansial. Berikut sejumlah pos keuangan yang tidak disarankan untuk dialokasikan ke modal investasi.
1. Uang untuk Kebutuhan Pokok Bulanan
Kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, cicilan rutin, dan biaya pendidikan merupakan pengeluaran wajib yang harus dipenuhi setiap bulan. Dana untuk pos ini seharusnya tidak dialokasikan jadi modal investasi apa pun.
Mengorbankan kelancaran pemenuhan kebutuhan dasar demi modal investasi merupakan langkah yang sangat berisiko. Pasalnya, nilai investasi bersifat fluktuatif dan dapat mengalami penurunan sewaktu-waktu.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang memiliki kebutuhan bulanan sebesar Rp7 juta dan sebagian dana tersebut dialihkan menjadi modal investasi, maka ketika terjadi kerugian, dampaknya bukan hanya pada portofolio, tetapi juga langsung menggerus kemampuan memenuhi kebutuhan harian.
Dalam kondisi ini, modal investasi yang diharapkan memberi keuntungan justru berpotensi memicu masalah keuangan baru, mulai dari keterlambatan pembayaran kewajiban hingga terpaksa berutang.
Â
2. Uang dari Hasil Pinjaman
Ada sebagian investor atau trader berpengalaman memang memanfaatkan pinjaman sebagai strategi tertentu di pasar keuangan. Namun, bagi investor pemula, penggunaan dana pinjaman sebagai modal investasi sangat tidak disarankan.
Alasannya sederhana: kerugian investasi tetap harus dihadapi bersamaan dengan kewajiban mengembalikan utang. Tekanan finansial pun menjadi berlipat, terutama jika kondisi pasar tidak sesuai ekspektasi.
Tanpa pemahaman risiko dan manajemen keuangan yang matang, penggunaan dana pinjaman berpotensi mengubah kerugian investasi menjadi masalah finansial jangka panjang.
3. Tabungan Dana Darurat
Dana darurat merupakan fondasi penting dalam perencanaan keuangan pribadi. Fungsinya sebagai jaring pengaman (safety net) ketika terjadi kondisi tak terduga, seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau keadaan darurat lainnya.
Dana ini diperlukan agar individu tetap mampu bertahan secara finansial tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok atau menjual aset. Oleh karena itu, dana darurat tidak disarankan untuk digunakan sebagai modal investasi.
Idealnya, dana darurat disimpan pada instrumen yang likuid dan mudah diakses, seperti tabungan bank. Alternatif lain adalah emas, selama dapat dicairkan dengan cepat, serta diversifikasi terbatas ke mata uang asing untuk menjaga nilai dana.
4. Dana dari Menggadaikan atau Menjual Aset Penting
Menggadaikan atau menjual aset demi mendapatkan modal investasi juga termasuk langkah yang perlu dihindari. Aset seperti rumah, kendaraan, atau barang berharga memiliki fungsi penting sebagai penopang stabilitas keuangan dan kehidupan sehari-hari.
Ketika aset digadaikan, muncul kewajiban tambahan berupa bunga, tenggat waktu pelunasan, serta risiko kehilangan aset jika gagal memenuhi kewajiban tersebut. Di sisi lain, hasil investasi belum tentu memberikan keuntungan dalam waktu singkat, terutama saat pasar bergejolak.
Menjual aset produktif demi investasi juga berpotensi melemahkan kondisi keuangan jangka panjang. Aset yang semula menjadi sumber keamanan finansial justru hilang, sementara hasil investasi masih penuh ketidakpastian.
(dag/dag)[Gambas:Video CNBC]