Cara Agar Anak Magang Diangkat Jadi Karyawan Tetap dan Digaji Lebih

Amalia Zahira & Dany Gibran, CNBC Indonesia
Rabu, 28/01/2026 11:21 WIB
Foto: Ilustrasi anak magang. (Istimewa)
Dafar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi banyak fresh graduate, magang sering dianggap cuma tahap belajar sebelum kerja "beneran". Gajinya kecil, statusnya sementara, dan tujuannya sekadar cari pengalaman.

Padahal, kalau dilihat dari sisi keuangan pribadi, magang adalah keputusan finansial pertama di awal karier. Cara seseorang menjalani magang bisa menentukan berapa gaji pertamanya, seberapa cepat keuangannya stabil, dan seberapa besar peluangnya menabung di awal kerja.

Masalahnya, tidak sedikit anak magang yang sudah bekerja seperti karyawan tetap. Tugasnya nyata, tanggung jawabnya besar. Tapi saat magang selesai, tawaran yang datang tetap gaji standar fresh graduate. Di sinilah banyak orang tanpa sadar kehilangan peluang keuangan penting.


Magang sebagai Investasi, Bukan Sekadar Pengalaman

Waktu dan tenaga selama magang bukan cuma soal pengalaman, tapi modal. Sama seperti investasi lain, magang seharusnya memberi hasil.

Hasil yang ideal dari magang antara lain:

  • gaji awal yang lebih layak,

  • pendapatan yang lebih stabil,

  • dan posisi kerja yang jelas.

Kalau setelah magang gaji tetap mentok, berarti modal yang sudah dikeluarkan belum dimanfaatkan maksimal.

Diangkat Jadi Karyawan Tetap, Tapi Gaji "Tetap Jalan di Tempat"

Banyak orang merasa aman begitu diangkat jadi karyawan tetap, meski gajinya tidak jauh berbeda dari saat magang. Padahal, dari sisi keuangan, status saja tidak cukup.

Tanpa kenaikan penghasilan, kondisi keuangan tetap rapuh. Gaji awal adalah pondasi, karena akan memengaruhi tabungan, kenaikan gaji, dan standar gaji di pekerjaan berikutnya.

Kenapa Perusahaan Mau Bayar Lebih?

Sebenarnya, perusahaan justru lebih untung mengangkat anak magang yang sudah terbukti dibanding merekrut orang baru.

Perusahaan tidak perlu:

  • seleksi ulang,

  • pelatihan dari nol,

  • atau mengambil risiko orang baru tidak cocok.

Anak magang yang sudah paham kerjaan dianggap lebih "aman". Karena risikonya lebih kecil, perusahaan biasanya mau membayar lebih, asalkan nilainya memang terasa.

Nilai Diri Dilihat dari Dampak Kerja

Perusahaan tidak membayar gelar "pernah magang", tapi hasil kerja.

Nilai diri akan naik kalau kehadiran kita:

  • meringankan beban tim,

  • bikin kerjaan lebih rapi dan cepat,

  • mengurangi kesalahan,

  • atau menjaga kualitas kerja tetap konsisten.

Kalau dampaknya jelas, pembahasan gaji jadi lebih masuk akal.

Jadi Problem Solver Itu Nilainya Mahal

Karyawan yang dicari perusahaan bukan cuma yang patuh, tapi yang bisa bantu menyelesaikan masalah. Anak magang yang mau inisiatif, berani ambil tanggung jawab, dan tidak cuma menunggu perintah akan lebih cepat dilihat sebagai aset. Dari sisi keuangan, orang seperti ini lebih bernilai karena menghemat waktu dan tenaga tim.

Sikap Kerja Menentukan Masa Depan Keuangan

Skill penting, tapi sikap juga menentukan. Perusahaan ingin tahu apakah seseorang layak diajak tumbuh jangka panjang.

Anak magang yang mau belajar, terbuka dengan evaluasi, dan aktif meningkatkan kemampuan biasanya lebih dipercaya. Kepercayaan ini sering berujung pada kesempatan tetap dan gaji yang lebih baik.

Selisih Gaji Awal Kecil, Efeknya Besar

Selisih gaji Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan sering dianggap sepele. Padahal, dampaknya terasa dalam beberapa tahun.

Gaji awal memengaruhi:

  • kemampuan menabung,

  • dana darurat,

  • peluang investasi,

  • dan standar gaji saat pindah kerja.

Selisih kecil di awal bisa bikin perbedaan besar ke depan.

Cara Membahas Gaji dengan Masuk Akal

Membahas gaji sebaiknya dilakukan dengan tenang dan rasional, bukan emosional.

Waktu yang tepat biasanya setelah kontribusi terlihat jelas atau saat evaluasi. Fokuskan pembicaraan pada:

  • apa yang sudah dikerjakan,

  • dampak ke tim,

  • dan tanggung jawab yang siap diambil.

Pendekatan ini membuat diskusi terasa profesional dan lebih mudah diterima.

Fondasi Keuangan Dibangun Sejak Masih Magang

Gaji yang lebih layak di awal kerja bukan soal gaya hidup, tapi soal punya ruang bernapas secara finansial.

Dengan penghasilan yang lebih baik, seseorang bisa:

  • menyiapkan dana darurat,

  • menghindari utang konsumtif,

  • dan mulai menabung atau investasi lebih cepat.

Dari sudut pandang keuangan pribadi, magang bukan sekadar fase lewat. Cara memanfaatkannya akan sangat menentukan kondisi keuangan di masa depan.


(dag/dag)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Layani Pensiunan & UMKM, Bank Mantap Genjot Kredit-Kualitas SDM