Stres Finansial: Arti, Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
15 January 2026 15:04
Ilustrasi (Image by Małgorzata Tomczak from Pixabay)
Foto: Ilustrasi (Image by Małgorzata Tomczak from Pixabay)
Daftar Isi

Jakarta CNBC Indonesia - Financial stres adalah salah satu bentuk stres yang paling umum dialami oleh orang dewasa di seluruh dunia akibat masalah keuangan. Uang bukan hanya tentang kebutuhan dasar, tetapi juga terkait dengan ketidakpastian, kontrol, dan kesejahteraan emosional.

Menurut BetterUp, "Financial stress is a state of worry, anxiety, or emotional tension related to money, debt, and upcoming or current expenses." Artinya, stres finansial adalah keadaan kekhawatiran, kecemasan, atau ketegangan emosional yang muncul karena masalah uang, hutang, dan biaya yang akan datang maupun yang sedang berlangsung.

Contoh Situasi Stres Finansial

Masalah keuangan bisa muncul ketika seseorang:

  • Tidak bisa membayar tagihan bulanan;

  • Menghadapi utang yang menumpuk;

  • Mengalami pengeluaran tak terduga (medis, kendaraan, rumah);

  • Tidak punya dana darurat;

  • Ketidakpastian pekerjaan atau ekonomi.

Mengapa Stres Finansial Penting Dipahami?

Stres finansial bukan sekadar "stres biasa". Banyak penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran soal uang secara signifikan dapat menurunkan kesehatan mental dan fisik seseorang bahkan memengaruhi tidur, hubungan sosial, dan performa kerja

Tanda-tanda Stres Finansial

Beberapa tanda umum termasuk:

  • Selalu merasa cemas tentang keuangan;

  • Sulit tidur karena memikirkan tagihan;

  • Menghindari cek rekening bank atau tagihan;

  • Mudah marah akibat masalah uang;

  • Menunda merencanakan masa depan karena takut dengan kondisi sekarang.

Penyebab Utama Stres Finansial

1. Pendapatan Tidak Stabil & Rendah

Salah satu faktor terbesar yang memicu financial stress adalah pendapatan yang tidak stabil atau kurang memadai dibandingkan kebutuhan hidup. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya penghasilan signifikan berkontribusi pada tekanan finansial karena membuat seseorang khawatir tentang kemampuan memenuhi biaya hidup harian dan kewajiban finansialnya. Contoh: Survei Bankrate (2024) mencatat bahwa 59 % orang dewasa AS mengatakan kesulitan membayar pengeluaran rutin menjadi pemicu utama stress finansial.

2. Utang yang Tinggi & Kewajiban Membayar Cicilan

Utang, baik berupa pinjaman pendidikan, kartu kredit, maupun pinjaman online menjadi penyebab utama financial stress. Beban utang yang menumpuk meningkatkan kecemasan karena setiap bulan harus memikirkan jadwal dan besaran pembayaran tepat waktu.

Penelitian empiris menunjukkan bahwa kewajiban pembayaran utang (debt burden) berkorelasi kuat dengan tingkat financial stress, terutama ketika pendapatan tidak mencukupi untuk melunasi beban tersebut.

3. Pengeluaran Melebihi Pemasukan

Selain utang, perilaku overspending (mengeluarkan uang lebih dari yang dimiliki) juga merupakan faktor besar yang memicu financial stress. Dalam literatur ekonomi perilaku, overspending disebut sebagai kondisi di mana pengeluaran tidak sejalan dengan pendapatan kemampuan individu, sering dipicu oleh konsumtif dan bunga kredit yang mudah tersedia.

Ketika pengeluaran melebihi pemasukan, saldo rekening terus menipis, sehingga kekhawatiran tentang ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar semakin meningkat.

4. Kurangnya Dana Darurat

Salah satu faktor psikologis yang sering diperhatikan dalam riset financial stress adalah ketidakmampuan menghadapi situasi tak terduga seperti kebutuhan medis, perbaikan rumah, atau kehilangan pekerjaan. Ketiadaan dana darurat membuat individu cepat kehilangan rasa kontrol atas finansial mereka saat terjadi kejadian tak terduga, yang kemudian meningkatkan kecemasan finansial.

5. Kurangnya Literasi & Perencanaan Keuangan

Literasi finansial rendah membuat banyak orang kurang memahami konsep dasar pengelolaan uang, seperti menabung, investasi, dan budgeting yang efektif. Penelitian menyatakan bahwa kurangnya literasi keuangan yang signifikan dapat meningkatkan risiko mengalami stres finansial. Orang yang lebih memahami konsep perencanaan dan manajemen keuangan umumnya lebih mampu menghindari keputusan finansial impulsif dan memaksimalkan strategi pengelolaan uang mereka.

6. Ketidakpastian Ekonomi & Lingkungan Sosial

Faktor makro seperti ketidakpastian ekonomi, inflasi, atau perubahan kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi penyebab financial stress karena meningkatkan risiko pengangguran, pengurangan jam kerja, atau penghasilan yang tidak stabil. Di tengah gejolak ekonomi global, banyak individu merasa tidak pasti tentang masa depan keuangan mereka.

Ketidakstabilan ekonomi membuat perencanaan jangka panjang menjadi lebih sulit, sehingga kecemasan tentang masa depan meningkat.

7. Tekanan Sosial & Konsumsi

Budaya konsumtif dan tekanan sosial untuk mempertahankan gaya hidup tertentu juga bisa menjadi penyebab financial stress. Orang sering merasa harus keep up dengan standar sosial tertentu (misalnya untuk membeli barang branded atau gaya hidup yang tampak "sukses"), yang mendorong pengeluaran tanpa pertimbangan kemampuan.

8. Faktor Psikologis Seperti Kecemasan (Anxiety)

Jangan lupa bahwa financial stress juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti financial worry atau kecemasan finansial itu sendiri. Penelitian di Amerika menunjukkan adanya hubungan kuat antara kecemasan finansial dan distress psikologis, terutama pada individu yang merasa tidak memiliki cukup kendali terhadap kondisi keuangannya.

Cara Mengatasi Stres Finansial

Berikut ini strategi untuk mengatasi stres finansial yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Kenali & Terima Situasimu

Langkah pertama adalah mengakui bahwa kamu sedang mengalami financial stress. Menurut U.S. Bank, pengakuan ini penting karena mengurangi rasa takut dan memberi rasa kontrol awal terhadap masalah keuangan.

2. Buat Rencana & Anggaran

Membuat anggaran yang realistis membantu melihat ke mana uang kamu pergi. Ini termasuk catat pemasukan, pengeluaran, serta target menabung. Banyak ahli menyebut langkah ini sebagai fondasi pengelolaan finansial yang sehat.

3. Bangun Dana Darurat

Memiliki dana darurat yang cukup untuk menutupi minimal 6 bulan biaya hidup. Ini bisa membantu menurunkan stres saat menghadapi kejadian tak terduga.

4. Cari Dukungan Profesional

Bekerja dengan penasihat keuangan atau planner berpengalaman dapat memberikan perspektif baru dan strategi yang lebih efektif dalam mengelola utang atau investasi.

5. Jaga Kesehatan Mental dan Emosi

Selain perencanaan finansial, penting juga untuk menjaga kesehatan mental. Teknik seperti mindfulness, meditasi, atau konsultasi dengan psikolog bisa membantu menghadapi rasa cemas tanpa berlebihan.

(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features