Jadi Seni Berhemat Baru, Apa Itu Loud Budgeting?

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
13 January 2026 16:48
Dok Pegadaian
Foto: Dok Pegadaian

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah gempuran budaya konsumerisme dan tren flexing di media sosial, muncul fenomena baru yang disebut dengan Loud Budgeting. Tren ini pertama kali viral melalui platform TikTok dan dengan cepat menjadi referensi finansial baru bagi Generasi Z dan Milenial.

Berbeda dengan metode penghematan tradisional yang sering kali terkesan "pelit" atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi, loud budgeting justru dilakukan secara vokal dan penuh kebanggaan. Secara sederhana, loud budgeting adalah tindakan menyatakan secara terbuka bahwa dalam memprioritaskan tujuan keuangan yang lebih penting agar nantinya memiliki anggaran untuk pengeluaran tertentu.

Prinsip ini menjadi bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Salah satu karyawan BUMN, Aji (28) menerapkan prinsip ini demi memiliki rumah impiannya.

"Kalau dulu sering kali malu atau gak enak saat menolak ajakan nongkrong mahal dengan alasan gak ada uang, karena loud budgeting aku justru justru lebih berani menyatakan dengan tegas penolakanku atas ajakan teman-teman untuk berhemat, seperti 'Aku gak bisa ikut nongkrong ke kafe malam minggu ini, karena sedang fokus nabung emas untuk DP rumah'," ungkap dia dikutip Selasa (13/1/2026).

"Hasilnya dari satu bulan ini aku berhasil berhemat dan menabung emas lebih dari satu gram. Sejujurnya ini lebih melegakan, dan karena kita tidak ragu untuk menyatakan, akhirnya orang-orang juga jadi ikut ter-influence untuk berhemat ala loud budgeting," ungkap Aji.

Loud budgeting kini dianggap sebagai langkah revolusioner dalam pengelolaan keuangan pribadi karena secara tidak langsung menggerus stigma sosial, dengan bersikap terbuka akan menormalisasi kondisi keuangan yang terbatas demi rencana jangka panjang.

Tren ini juga dapat mengendalikan impulsivitas, karena pengikut tren tersebut akan cenderung fokus pada prioritas (value-based spending). Bukan berarti tidak boleh berbelanja, namun memangkas biaya pada hal-hal yang tidak memberikan nilai jangka panjang, seperti membeli kopi mahal setiap hari atau membeli baju sekali pakai. Adapun biaya tersebut dapat dialihkan ke aset yang lebih produktif, seperti emas, saham, dan instrumen investasi lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka menyampaikan dukungannya terhadap loud budgeting. Dia mengungkapkan menabung emas menjadi sangat cocok bagi generasi muda yang menerapkan loud budgeting.

"Sederhananya loud budgeting adalah pola shifting dari habit konsumtif menjadi lebih produktif. Misalnya setiap hari beli kopi seharga 20 ribu, jadi menabung senilai 20 ribu. Apalagi saat ini generasi muda semakin melek finansial dan semakin aware terhadap berbagai jenis instrumen investasi, seperti emas yang merupakan investasi safe haven," kata dia.

"Ini terlihat dari lonjakan nasabah year on year di Pegadaian per Desember 2025 lalu, di mana milenial tumbuh sebesar 49%, sementara Gen Z meningkat hingga 116%. Saat ini masyarakat ingin sesuatu yang mudah dan fleksibel. Melalui Aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat dapat menabung mulai dari Rp 10 ribu rupiah saja, dimana saja, dan kapan saja," tambahnya.

"Bagi nasabah Tabungan Emas Pegadaian, loud budgeting tentu menjadi 'kendaraan nyaman' untuk mempercepat pertumbuhan aset. Hadirnya Tring! by Pegadaian sebagai platform finansial semakin memudahkan masyarakat bertransaksi dalam genggaman. Dengan konsisten menerapkan loud budgeting, masyarakat tidak hanya menghemat pengeluaran, namun juga membangun pondasi keuangan yang kokoh," pungkas dia.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tips Aman Liburan Akhir Tahun, Siapkan Pondasi Keuangan yang Kuat


Most Popular
Features