6 Penyebab Banyak Pembeli Salah Pilih Rumah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kesalahan dalam memilih rumah masih kerap terjadi, bahkan pada pembeli yang merasa sudah melakukan riset. Tidak sedikit orang baru menyadari kekeliruan tersebut setelah transaksi selesai dan rumah mulai ditempati. Faktor emosional, keterbatasan informasi, hingga kurangnya perencanaan jangka panjang menjadi penyebab utama keputusan yang kurang tepat.
Padahal, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan aset bernilai besar yang berdampak langsung pada kondisi finansial dan kualitas hidup. Berikut enam penyebab utama mengapa banyak orang akhirnya salah memilih rumah, meski pilihan di pasar terlihat begitu beragam.
1. Makna Rumah Ideal Tidak Sama untuk Setiap Orang
Rumah yang dianggap ideal sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing individu. Bagi pekerja muda, lokasi strategis dan akses transportasi mungkin menjadi prioritas utama. Sementara bagi keluarga, faktor keamanan lingkungan, ruang yang memadai, dan fasilitas pendukung seperti sekolah menjadi pertimbangan penting.
Meski begitu, para pengamat properti menilai ada sejumlah tanda peringatan yang sebaiknya tidak diabaikan oleh siapa pun. Kondisi bangunan yang lembap, riwayat perawatan yang tidak jelas, lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi, hingga harga yang terlalu jauh dari nilai pasar dapat menjadi indikasi masalah tersembunyi.
2. Lokasi Menentukan Kualitas Hunian
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah terlalu fokus pada rumah, tetapi kurang memperhatikan kawasan sekitarnya. Padahal, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup sehari-hari.
Ketersediaan fasilitas umum, akses transportasi, pusat perbelanjaan, layanan kesehatan, hingga suasana sosial di sekitar rumah perlu menjadi bagian dari pertimbangan. Selain itu, calon pembeli juga disarankan menelusuri rencana pengembangan wilayah di masa depan, karena proyek infrastruktur atau pembangunan besar dapat mengubah karakter kawasan secara signifikan.
3. Pentingnya Melihat Rumah Lebih dari Sekali
Melakukan satu kali kunjungan sering kali tidak cukup untuk memahami kondisi sebenarnya sebuah rumah. Situasi lingkungan bisa sangat berbeda tergantung waktu.
Kemacetan pada jam sibuk, kebisingan dari aktivitas sekitar, atau masalah parkir biasanya baru terasa jika rumah dikunjungi di waktu yang berbeda. Karena itu, melihat properti lebih dari satu kali menjadi langkah yang bijak sebelum mengambil keputusan besar.
4. Risiko Keputusan yang Terburu-buru
Dorongan emosional kerap membuat calon pembeli ingin segera mengamankan rumah incaran. Namun, keputusan yang diambil terlalu cepat berisiko mengabaikan aspek penting, mulai dari kelengkapan dokumen hingga kondisi bangunan secara menyeluruh.
Mengingat rumah merupakan aset bernilai besar, kehati-hatian menjadi kunci. Meluangkan waktu untuk membandingkan pilihan, menelaah legalitas, serta menghitung kemampuan finansial dapat mencegah kerugian di kemudian hari.
5. Rumah dan Perencanaan Jangka Panjang
Hunian ideal seharusnya mampu mengakomodasi kebutuhan saat ini sekaligus rencana masa depan. Perubahan gaya hidup, penambahan anggota keluarga, atau kebutuhan ruang tambahan perlu dipikirkan sejak awal agar tidak memicu keharusan pindah dalam waktu singkat.
Pendekatan jangka panjang ini juga berdampak pada nilai properti, terutama jika rumah berada di lokasi dengan prospek pertumbuhan yang baik.
6. Proses yang Bisa Tetap Menyenangkan
Meski penuh tantangan, mencari rumah tidak harus menjadi pengalaman yang menegangkan. Menjelajahi berbagai kawasan dan membayangkan kehidupan di dalamnya justru bisa menjadi bagian yang menyenangkan, selama prosesnya dilakukan secara terencana.
Pendampingan profesional juga dapat membantu mengurangi beban, mulai dari riset pasar hingga negosiasi harga, sehingga calon pembeli dapat lebih fokus pada keputusan yang tepat.
(dag/dag)