Masih Jauh Sih, Tapi Begini Cara Hitung THR

My Money - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
01 April 2022 15:39
rupiah detik

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebentar lagi memasuki bulan Ramadan dan 30 hari setelahnya menyambut Hari Raya Idul Fitri. Biasanya selain bedug buka puasa dan takjil, Tunjangan Hari Raya (THR) jadi salah satu yang paling dinantikan.

THR merupakan upah yang karyawan terima sebelum hari raya, baik pegawai tetap maupun kontrak berhak untuk mendapatkannya. Pemberian THR ini sudah disesuaikan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 yang menyebutkan bahwa cara hitung THR bergantung pada masa kerja, di mana:

  • Karyawan yang sudah bekerja selama 12 bulan atau satu tahun, berhak mendapatkan besaran THR sebesar satu kali gaji
  • Karyawan yang bekerja minimal 1 bulan atau kurang dari 12 bulan akan mendapatkan THR secara proporsional sesuai dengan masa kerjanya

Lantas, bagaimana cara hitung THR yang sesuai dengan undang-undang?


Cara Hitung THR Bagi Karyawan Tetap

Sesuai dengan aturan Permenaker No 6 Tahun 2016, maka karyawan yang sudah bekerja selama 12 bulan berhak untuk mendapatkan THR sebesar upah pokok.

THR juga berhak diberikan kepada karyawan yang bekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan. Namun yang didapatkan proposional sesuai berapa lama waktu bekerja. Berikut cara perhitungannya:

THR = (Masa Kerja: 12 bulan) x Gaji Bulanan

Sebagai contoh:

Jika gaji bulanan seorang karyawan Rp 10.000.000 per bulan dan karyawan tersebut telah bekerja selama 6 bulan, maka THR yang diberikan sebesar:

THR = (6 bulan : 12 bulan) x Rp 10.000.000

THR = Rp 5.000.000

Gaji bulanan meliputi gaji pokok dan tunjangan. Jika terdapat tunjangan makan yang bersifat harian dan tergantung kehadiran tidak masuk ke dalam perhitungan THR nantinya.

Cara Hitung THR Bagi Karyawan Harian

Kemudian, bagi karyawan harian, maka cara hitung THR sedikit berbeda dari aturan sebelumnya. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Karyawan harian yang bekerja selama 12 bulan atau lebih akan mendapatkan THR sebesar rata-rata upah yang mereka terima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya.
  • Karyawan harian yang bekerja kurang dari 12 bulan, maka akan mendapatkan THR sebesar rata-rata upah yang mereka terima setiap bulannya selama bekerja di perusahaan tersebut.

Sebagai contoh:



Jika karyawan tersebut bekerja selama 12 bulan maka THR yang akan didapatkan sebesar Rp 3.970.833 yang berasal dari rerata jumlah upah selama 12 bulan.

Namun, jika karyawan bekerja hanya 6 bulan, maka THR yang didapatkan sebesar Rp 1.962.500. Jumlah ini didapatkan dari:

THR = (Masa Kerja: 12 bulan) x Rata-rata Gaji Selama Masa Kerja

THR = (6 bulan: 12 bulan) x Rp 3.925.000

THR = Rp 1.962.500

Cara Hitung THR Bagi Karyawan Kontrak

Seperti yang sudah dibahas di awal, bahwa THR bukan hanya untuk karyawan tetap. Karyawan kontrak juga berhak mendapatkan THR meski dengan aturan yang sedikit berbeda. Tetapi untuk besar nominal THR secara proporsional sesuai dengan masa kerja.

THR = (Masa Kerja: 12 bulan) x Gaji Bulanan

Ada tiga jenis karyawan kontrak yang berhak menerima THR berikut ini:

  • Karyawan yang bekerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak tertentu (PKWTT) dengan masa kerja 1 bulan secara terus menerus atau lebih
  • Karyawan PKWTT yang mengalami pemutusan kontrak 30 hari sebelum hari raya keagamaan
  • Karyawan yang dimutasi ke perusahaan lain dengan perhitungan masa kerja berlanjut dan di perusahaan lama belum mendapatkan THR

Untuk karyawan yang mendapatkan pemutusan hubungan kontrak pada tiga bulan sebelum perayaan hari raya keagamaan, maka ia tidak berhak untuk menerima THR. Perlu diketahui, THR atau Tunjangan Hari Raya bukan hanya saat lebaran saja, tetapi menjelang hari raya agama selain islam pun juga berhak untuk mendapatkan THR.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Begini Aturan Cara Hitung THR Sesuai dengan Undang-Undang


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading