Ekonom Danamon Ramal Rupiah Rp18.032/US$ di Akhir 2026
Sabang, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan hingga penghujung 2026. Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan rupiah akan berada di level Rp18.032 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun ini.
Tekanan terhadap mata uang Garuda terutama berasal dari faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi, meningkatnya risiko inflasi global, hingga tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Irman menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor kejutan yang mengubah prospek ekonomi global sepanjang tahun ini. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran pada awal tahun telah mendorong harga minyak melonjak signifikan. Meskipun sempat terkoreksi, harganya masih bertahan di level tinggi.
"Di tahun ini harga energi itu menjadi faktor surprise dimana ada US-Iran war di awal tahun kemudian tiba-tiba brand oil naik cukup signifikan. Sempat turun lagi tapi terakhir harganya cukup sticky di atas US$100 dollar per barrel," ujar Irman dalam media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, lonjakan harga energi tersebut turut membalikkan ekspektasi inflasi global. Tren disinflasi yang sebelumnya diharapkan berlanjut justru berubah menjadi risiko inflasi yang kembali meningkat.
Kondisi ini membuat bank sentral global menghadapi tantangan untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama atau memasuki era higher for longer.
Tingginya suku bunga AS juga meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi dolar. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di pasar negara berkembang.
"Kalau dia risk of, maka dia akan memilih aset-aset keuangan yang relatively lebih aman, termasuk negaranya. Kalau dia nyari negara yang aman, negara mana yang akan dituju? Ya itu adalah advanced economy," katanya.
Pergeseran arus modal menuju negara maju tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik dapat meningkatkan permintaan dolar AS untuk kebutuhan repatriasi dana.
Selain melalui jalur keuangan, tekanan terhadap rupiah juga datang dari jalur perdagangan internasional. Irman mengingatkan, Indonesia merupakan negara pengimpor bersih minyak atau net oil importer, sehingga kenaikan harga minyak dunia membuat kebutuhan pembayaran impor energi dalam dolar semakin besar.
Peningkatan biaya impor energi berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan minyak dan gas. Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan karena kebutuhan valuta asing untuk membayar impor meningkat.
Irman memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia mencapai sekitar 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada 2027.
"Jadi kami memperkirakan neraca perdagangan ini akan menyebabkan current account defisit di 1,5% GDP di tahun ini dan melebar sedikit ke 1,6% di tahun depan," jelasnya.
Defisit transaksi berjalan tersebut menunjukkan Indonesia masih membutuhkan pembiayaan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dolar AS. Jika arus modal masuk tidak cukup kuat untuk menutup kebutuhan tersebut, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut.
Meski demikian, Irman melihat peluang perbaikan dari sisi harga minyak dunia pada tahun depan. Meredanya ketegangan geopolitik dan normalisasi rantai pasok berpotensi meningkatkan pasokan minyak global.
Apabila konflik geopolitik mengalami deeskalasi dan fasilitas pengolahan minyak yang sempat berhenti beroperasi kembali dibuka, negara-negara OPEC+ berpotensi meningkatkan produksi. Kondisi tersebut dapat mendorong pasar minyak global mengalami kelebihan pasokan (oversupply).
Namun, penurunan harga minyak mentah tidak serta-merta membuat inflasi konsumen turun dengan cepat. Produk turunan minyak, seperti diesel, masih menghadapi kendala distribusi, logistik, dan kapasitas kilang sehingga membutuhkan waktu sebelum penurunan harga minyak mentah diteruskan ke konsumen.
Dengan demikian, penurunan inflasi global diperkirakan berlangsung bertahap. Kondisi tersebut membuat ruang bagi bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga pada 2027 masih terbatas.
Bagi Indonesia, kombinasi harga energi yang relatif tinggi, suku bunga AS yang bertahan tinggi, defisit transaksi berjalan, serta potensi keluarnya arus modal asing menjadi sejumlah tantangan yang dapat membebani nilai tukar rupiah hingga akhir tahun.
(ras/haa)