Internasional

Blue Tsunami! Bursa AS Hancur Rp 45.000 T Lenyap, Data Center Terancam

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 06/11/2026 08:40 WIB
Foto: REUTERS/Andrew Kelly

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis (5/11/2026) waktu setempat. Indeks teknologi Nasdaq terpuruk setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu, yang diibaratkan dengan "blue tsunami", memicu kekhawatiran investor terhadap masa depan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Istilah blue sendiri berarti warna biru yang menjadi identitas partai. Sementara tsunami merujuk gelombang kemenangan.

Nasdaq Composite anjlok 5,5%. Ini menjadi penurunan harian terdalam sejak peristiwa Liberation Day pada April 2025. Sementara itu, Nasdaq 100 yang berisi perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar merosot 6,4%. Koreksi tersebut menghapus sekitar US$2,5 triliun (sekitar Rp45.000 triliun) dari total nilai pasar Nasdaq 100.


Tekanan jual terjadi di tengah kekhawatiran bahwa kemenangan Partai Demokrat dapat memperlambat pembangunan pusat data (data center) di AS. Investor menilai perubahan peta politik berpotensi meningkatkan pengawasan dan hambatan perizinan terhadap proyek-proyek infrastruktur AI.

"Hal utama dari hasil pemilu ini, terutama dengan kemenangan Demokrat di banyak pemilihan gubernur, adalah perlambatan pembangunan pusat data yang menjadi tema utama," ujar kepala strategi pasar di JonesTrading, Michael O'Rourke, Stamford, Connecticut, dimuat Reuters.

Nasdaq Composite kini masuk zona koreksi atau correction territory setelah turun hampir 12% dari rekor penutupan tertingginya pada 6 Oktober 2026. Secara umum, koreksi pasar didefinisikan sebagai penurunan minimal 10% dari level puncak terakhir.

Aksi jual saham teknologi juga menjadi penurunan beruntun kedua bagi saham-saham AI. Sejak pertengahan Oktober, Nasdaq Composite bahkan telah mengalami lima kali penurunan lebih dari 500 poin.

Saham Chip Terjun Bebas

Sektor semikonduktor menjadi salah satu yang paling terpukul. Philadelphia Semiconductor Index (SOX) anjlok 12% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan sementara saham Nvidia merosot 9%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) terjun 17%.

Tekanan juga menjalar ke perusahaan teknologi raksasa atau hyperscalers. Saham Amazon dan Alphabet masing-masing turun 2,2%. Microsoft tsendiri erkoreksi 3,6%. Sementara itu, saham perusahaan penyedia komputasi awan khusus AI atau neocloud ikut mengalami tekanan hebat. 

Nebius anjlok 15%, sedangkan CoreWeave merosot 10%. Saham kedua perusahaan tersebut bahkan telah kehilangan setengah atau lebih dari nilainya sejak Nasdaq Composite mencapai rekor tertinggi pada 6 Oktober lalu.

CoreWeave menjadi salah satu indikator kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja dan pembiayaan industri AI. Premi credit default swap (CDS), instrumen yang digunakan untuk melindungi investor dari risiko gagal bayar, lima tahun perusahaan tersebut melebar ke rekor 1.267,9 basis poin.

Kenaikan premi CDS menunjukkan pasar semakin mengkhawatirkan risiko kredit perusahaan. Premi CDS lima tahun Intel juga menyentuh rekor 149,7 basis poin.

Pembangunan Data Center Terancam

Kekhawatiran investor tidak hanya berkaitan dengan valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi, tetapi juga keberlanjutan pembangunan infrastruktur AI. Pembangunan pusat data membutuhkan investasi miliaran dolar, termasuk untuk fasilitas komputasi, pasokan listrik, dan sistem pendingin.

Namun, proyek-proyek tersebut kini berpotensi menghadapi hambatan politik. Bahkan penolakan masyarakat setempat.

Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro, menilai pembangunan pusat data dapat menghadapi perlawanan lebih besar karena dampaknya terhadap lingkungan dan infrastruktur lokal.

"Penolakan terhadap pembangunan pusat data yang berlokasi di lingkungan tempat tinggal masyarakat akan semakin besar, karena membebani jaringan listrik dan sistem air," ujarnya.

Analis UBS juga memperkirakan sekitar 30% dari tambahan kapasitas pusat data yang direncanakan di AS pada 2028 berpotensi terdampak oleh kemungkinan penghentian sementara pembangunan. Jika terealisasi, kondisi tersebut dapat mengancam prospek industri yang selama ini sangat bergantung pada ekspansi fasilitas pusat data secara cepat.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Danantara Minta Investor Data Center Raksasa Siapkan Sumber Energi