MARKET DATA

Bursa Asia Menguat, Kospi Melonjak 3,8% Ditopang Saham Teknologi

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
27 October 2026 08:53
Papan elektronik menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan, di ruang transaksi sebuah bank, di Seoul, Korea Selatan, 7 April 2025. Yonhap/via REUTERS
Foto: via REUTERS/Yonhap News Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak mayoritas menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), mengikuti penguatan Wall Street seiring saham-saham teknologi kembali menjadi pendorong utama pasar.

Melansir CNBC, Indeks saham Korea Selatan memimpin kenaikan di kawasan Asia, sementara bursa Australia bergerak melemah.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,7%, sedangkan Topix menguat 0,4%. Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 3,8%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil dan berorientasi teknologi Kosdaq naik 2,9%.

Sebaliknya, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 melemah 0,32%. Pergerakan bursa Asia tersebut terjadi setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) mengawali pekan dengan penguatan, ditopang kinerja saham teknologi.


Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average naik 146,42 poin atau 0,3%. Indeks S&P 500 menguat 0,7%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 0,8% seiring saham-saham teknologi mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan.

Perdagangan saham teknologi mendapat dorongan setelah perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Anthropic, mengajukan dokumen untuk melantai di bursa Nasdaq. Jika terealisasi, pencatatan saham tersebut akan menjadi salah satu penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) besar di sektor teknologi pada 2026, menyusul pencatatan saham SpaceX pada Juni lalu.

Sejumlah saham teknologi raksasa turut menguat pada perdagangan Senin waktu setempat. Saham Tesla melonjak lebih dari 5%, Nvidia naik 2%, sementara Microsoft dan Amazon juga ditutup di zona hijau.

Penguatan tersebut terjadi di tengah tekanan yang sebelumnya membayangi perdagangan saham bertema AI. Investor khawatir perusahaan-perusahaan di sektor tersebut terlalu banyak berutang untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan ekspansi bisnis AI.

Dari sisi korporasi, pelaku pasar akan mencermati rangkaian laporan keuangan kuartal III-2026 yang dirilis sepanjang pekan ini. Coca-Cola, Robinhood, dan Boeing dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan pada Selasa, sedangkan raksasa teknologi Microsoft, Alphabet, dan Amazon akan merilis laporan keuangan mereka pada akhir pekan ini.

Selain laporan keuangan, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan kebijakan moneter terbaru Federal Reserve (The Fed) yang dimulai pekan ini. Bank sentral AS tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, tetapi pelaku pasar akan mencari petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun.

Thomas Block, Washington policy strategist di Fundstrat, mengatakan keputusan suku bunga yang tidak berubah tetap menarik untuk dicermati, terutama terkait hasil pemungutan suara para pejabat The Fed setelah perbedaan pandangan dalam dua pertemuan sebelumnya. Menurutnya, meskipun The Fed memandang dirinya berada di atas kepentingan politik partisan, bank sentral tersebut kemungkinan tidak akan mengubah suku bunga satu pekan sebelum pemilihan nasional.

Dari sisi ekonomi, investor juga akan memantau sejumlah data penting AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Data tersebut mencakup pesanan barang tahan lama (durable goods orders), tingkat kepercayaan konsumen (consumer confidence), serta laporan penjualan rumah baru (new home sales).

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Mengekor Wall Street, Bursa Asia Dibuka Melemah


Most Popular
Features