Arsjad Rasjid Bidik Duit 'Arab', Nilainya Tembus Rp103,06 Triliun

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 05/11/2026 10:20 WIB
Foto: Arsjad Rasjid dalam coffee break bersama wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (2/5/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konglomerat sekaligus Pendiri Sriwijaya Capital Arsjad Rasjid membidik investasi dari negara-negara Timur Tengah ke sektor produktif di Indonesia, untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Menurut Arsjad, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memiliki sumber permodalan yang sangat besar. Namun, tantangan utamanya adalah memastikan modal tersebut mengalir ke proyek investasi yang layak dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Modal bukanlah tujuan akhir. Yang terpenting adalah bagaimana investasi tersebut dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat," ujar Arsjad dalam Business Leaders Summit 2026 di Istanbul, Turki, seperti dikutip Kamis (5/11/2026).


Dana kekayaan negara yang dikelola negara-negara Teluk diperkirakan mencapai US$5,7 triliun atau setara Rp103,06 triliun, hampir 40% total aset sovereign wealth funds dunia. Sementara itu, aset industri keuangan syariah global mencapai hampir US$6 triliun atau senilai Rp108,49 triliun pada akhir 2024 dan terus tumbuh hingga US$9,7 triliun (Rp175,40 triliun) pada 2029.

Meski potensi modal sangat besar, tantangan realisasi investasi masih membayangi. Laporan OIC Economic Outlook 2026 dari SESRIC menunjukkan jumlah pengumuman proyek investasi baru di negara-negara OKI meningkat dari 1.706 proyek pada 2021 menjadi 3.671 proyek pada 2025. Namun, rata-rata nilai proyek turun dari US$118,6 juta (Rp2,14 triliun) pada 2023 menjadi US$56,6 juta (Rp1,02 triliun) pada 2025.

Arsjad menilai ada tiga faktor utama untuk memperkuat investasi, yakni kepastian regulasi (certainty), permodalan (capital), dan kapasitas (capability). Investor membutuhkan aturan yang konsisten meskipun terjadi perubahan kepemimpinan, sementara ketersediaan modal perlu didukung peningkatan keterampilan tenaga kerja, produktivitas, dan teknologi.

"Namun, 3C saja tidak cukup. Kita membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, dan sektor swasta. B57+ dapat menjadi jembatan dunia usaha untuk menghasilkan kerja sama bisnis dan investasi yang konkret," kata Arsjad.

Salah satu contoh kerja sama investasi lintas kawasan adalah kemitraan Sriwijaya Capital, perusahaan investasi yang didirikan Arsjad, dengan BlueFive Capital yang berbasis di Abu Dhabi. Kemitraan ini bertujuan memperkuat arus investasi antara kawasan Teluk dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Di sektor energi terbarukan, perusahaan portofolio Sriwijaya Capital, SESNA, bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk menjajaki pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam. Inisiatif ini sejalan dengan target Indonesia mengembangkan kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt (GW).

"Ini yang menarik bagi saya sebagai investor. Ketika pemerintah dan dunia usaha bekerja sama, semakin banyak modal yang dapat masuk untuk mendukung pembangunan," ujar Arsjad.

Arsjad menilai pengalaman ASEAN menunjukkan bahwa integrasi ekonomi tidak cukup hanya melalui kesepakatan perdagangan, tetapi juga harus didukung konektivitas pasar dan keterlibatan dunia usaha. Salah satu contohnya adalah sistem pembayaran QRIS lintas negara yang mempermudah transaksi antara Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Ketika transaksi lintas negara semakin mudah, investor melihat pasar yang lebih besar dan semakin banyak proyek yang layak didanai," ujar Arsjad.


(ayh/ayh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: OJK Tetapkan Sanksi di 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal