Danantara Investment (DIM) Kantongi Laba Rp705,73 M hingga April 2026

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 16:49 WIB
Foto: Chief Investment Officer (CIO) di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Pandu Patria Sjahrir saat menyampaikan pemaparan dalam Kearney 100 Years of Impact di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT. Danantara Investment Management (DIM) mencatat laba bersih senilai US$40,61 juta, atau setara dengan Rp705,73 miliar hingga 30 April 2026. Capaian tersebut berbalik untung, dari sebelumnya di posisi rugi bersih senilai Rp131 juta pada periode yang sama tahun lalu

Bahkan, capaian tersebut juga 506,65% lebih tinggi dibandingkan laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp116,33 miliar (US$6,69 juta).

Lembaga investasi yang dibentuk oleh Presiden RI Prabowo Subianto tersebut baru memulai operasi komersial pada akhir Oktober 2025 setelah menerima suntikan modal dari pemegang saham.

Sehingga, laporan keuangan tahun 2025 hanya mencerminkan periode operasi yang singkat. Oleh karena itu, empat bulan pertama 2025, perseroan belum mencatat pendapatan dan hanya menanggung beban operasional Rp132 juta.


Mengutip bursa Singapura, pendapatan perseroan pada kuartal I tahun ini mencapai Rp1,10 triliun (US$63,01 juta), naik 36,67% dibandingkan pendapatan sepanjang 2025 sebesar Rp801,24 miliar.

Sementara beban operasional tercatat Rp330,56 miliar, atau setara 62,89% dari beban operasional setahun 2025 sebesar Rp525,63 miliar. Beban keuangan melonjak 119,00% menjadi Rp1,01 triliun dari Rp460,74 miliar.

Dari sisi pendapatan non operasional, amortisasi keuntungan tangguhan (deferred gain) naik 113,75% menjadi Rp644,23 miliar dari Rp301,39 miliar. Keuntungan selisih kurs tercatat Rp306,03 miliar, melonjak dari hanya Rp64 juta pada 2025.

Dari sisi neraca per 30 April 2026, total aset naik 6,09% menjadi Rp140,03 triliun dari Rp131,99 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas naik 11,85% menjadi Rp69,20 triliun dari Rp61,87 triliun, didorong kenaikan long-term notes sebesar 11,27% menjadi Rp68,25 triliun dari Rp61,34 triliun. Ekuitas naik 1,01% menjadi Rp70,82 triliun dari Rp70,12 triliun, sejalan dengan tambahan laba ditahan yang melonjak 626,76% menjadi Rp818,33 miliar dari Rp112,60 miliar.

Dari arus kas, perseroan mencatat arus kas operasional negatif Rp15,89 triliun pada empat bulan pertama 2026, berbalik dari positif Rp236,41 miliar pada 2025. Kas dan setara kas turun 6,52% menjadi Rp123,03 triliun dari Rp131,62 triliun.



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar AS Kehilangan Daya Tarik Sebagai Aset Aman