Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Anak usaha Telkom, PT. Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mencatat, laba tahun berjalan hingga kuartal III tahun ini sebesar Rp 1,55 triliun. Capaian tersebut naik 0,7% dibandingkan periode berjalan tahun 2025 yang sebesar Rp 1,54 triliun.
Mengutip keterbukaan informasi yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), capaian laba tersebut didorong oleh pendapatan hingga kuartal III yang sebesar Rp 7 triliun. pendapatan tersebut naik 1,81% dari tahun 2025 yang sebesar Rp 6,8 triliun.
Seiring dengan kenaikan pendapatan, maka beban pokok pendapatan tercatat naik 4,4% menjadi Rp3,5 triliun. Beban penyusutan naik 3,85% menjadi Rp1,42 triliun, sedangkan beban amortisasi naik 2,77% menjadi Rp1,33 triliun.
Selain itu, beban konstruksi dan manajemen proyek mencatat naik 12% menjadi Rp386,7 miliar, beban perencanaan, operasional, dan pemeliharaan menara telekomunikasi naik 6,14%. Satu-satunya komponen yang turun adalah beban lain-lain, yang menyusut 6,80% menjadi Rp13,9 miliar.
Manajemen menyebut, kinerja ini mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menjaga profitabilitas dan fundamental bisnis di tengah dinamika industri telekomunikasi. Sejalan dengan pencapaian tersebut, Mitratel terus memperkuat transformasi melalui optimalisasi aset, pengembangan kapabilitas digital, dan perluasan portofolio infrastruktur telekomunikasi.
"Strategi ini diarahkan untuk memperkuat daya saing Perseroan, meningkatkan produktivitas aset, serta menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital di Indonesia," Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, Jumat (30/10/2026).
Hingga September 2026, Mitratel mengoperasikan 40.704 menara telekomunikasi dengan 24.333 kolokasi dan total 65.037 tenant. Tenancy ratio meningkat menjadi 1,60 kali pada September 2026 dari sebelumnya 1,55 kali pada periode September 2025 mencerminkan peningkatan pemanfaatan infrastruktur menara melalui penambahan kolokasi khususnya di wilayah luar Pulau Jawa seiring dengan pemerataan konektivitas di Indonesia.
Pada segmen fiber optik, billable fiber length mencapai 76.761 km, tumbuh 13,3% YoY. Perkembangan ini semakin memperkuat peran jaringan fiber optik sebagai infrastruktur pendukung konektivitas yang melengkapi bisnis menara, sekaligus memperluas peluang Perseroan dalam memenuhi kebutuhan kapasitas jaringan dan pengembangan layanan telekomunikasi.
Mitratel terus mengoptimalkan potensi aset eksisting melalui pemanfaatan marketing analytics tools untuk mengidentifikasi peluang kolokasi, memetakan kebutuhan jaringan, dan meningkatkan ketepatan strategi komersial. Pendekatan berbasis data ini diharapkan dapat mendorong utilisasi aset yang lebih optimal, meningkatkan produktivitas operasional, serta memperkuat efektivitas pengembangan bisnis.
Selain itu, perseroan juga memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pemantauan infrastruktur, pemeliharaan aset, serta peningkatan efisiensi operasional. Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari penguatan kapabilitas Mitratel dalam mengelola portofolio infrastruktur yang luas dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
"Sebagai bagian dari ekosistem telekomunikasi nasional, Mitratel menempatkan kolaborasi dengan tenant, operator telekomunikasi, dan mitra industri sebagai salah satu fondasi pengembangan bisnis. Kemitraan tersebut mendukung optimalisasi infrastruktur, perluasan kapasitas jaringan, serta penyediaan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan layanan telekomunikasi," tutupnya.
(rob/rob)