Laba Emiten Prajogo (BRPT) Anjlok 60,65% Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) mengumumkan laba bersih setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$229 juta atau sekitar Rp4,15 triliun (kurs Rp18.147 per US$) hingga kuartal III/2026.
Laba tersebut menurun 60,65% Secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang senilai US$582 juta.
Sementara, laba bersih konsolidasian BRPT dilaporkan sebesar US$616 juta atau sekitar Rp11,18 triliun (kurs Rp18.148 per dolar AS) hingga kuartal III/2026. Laba ini menurun 66,14% YoY dari US$1,82 miliar.
Presiden Direktur Barito Pacific Agus Pangestu mengatakan kinerja perseroan masih dipengaruhi oleh beberapa tantangan global."Memasuki kuartal ketiga tahun 2026, lingkungan bisnis global masih diwarnai oleh berbagai tantangan, khususnya di sektor energi, di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Meskipun laba susut, BRPT sebenarnya membukukan kenaikan pendapatan bersih konsolidasikan sebesar 56,3% YoY menjadi US$8,7 miliar hingga akhir September 2026, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan bersih entitas anak, Chandra Asri Group, yang bergerak di sektor petrokimia.
Pendapatan bersih di sektor energi juga tumbuh 9,63% YoY menjadi US$501 juta. Namun, pendapatan bersih dari sektor lainnya susut 20% YoY menjadi US$4 juta.
Peningkatan pendapatan sebesar 9.6% YoY pada segmen energi terbarukan, mencapai US$501 juta pada 9 bulan tahun ini. "Pertumbuhan ini terutama didukung oleh peningkatan pembangkitan panas bumi dari penambahan kapasitas setelah proyek retrofit serta output pembangkit angin yang stabil selama periode tersebut," ujar Agus.
EBITDA perseroan pada periode yang sama tercatat senilai US$1,40 miliar didukung oleh margin pengolahan kilang yang solid, integrasi segmen ritel bahan bakar, serta keberlanjutan upaya efisiensi biaya pada segmen energi terbarukan.
Agus melanjutkan perbandingan kinerja terhadap kuartal III/2025 dipengaruhi oleh basis pembanding yang sangat tinggi, terutama akibat pengakuan keuntungan (bargain purchase gain) atas akuisisi Aster pada periode tersebut.
"Dengan mengecualikan keuntungan yang bersifat non-berulang tersebut, perseroan tetap mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang kuat," jelas Agus.
Adapun, total aset emiten yang dimiliki oleh konglomerat Prajogo Pangestu tersebut tercatat senilai US$19,58 miliar, tumbuh 12,82% YoY dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas pada 0,76x.
(asr/asr) [Gambas:Video CNBC]