MARKET DATA

IHSG Ditutup Melemah 0,80% ke 5.057,05

Annisa Rini,  CNBC Indonesia
30 October 2026 16:03
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) itu turun 41,01 poin atau 0,80% ke level 5.057,05.

Total volume transaksi mencapai 351,48 juta lot atau setara sekitar 35,15 miliar saham. Nilai transaksinya tercatat Rp10,38 triliun.

Pergerakan IHSG cukup fluktuatif sepanjang hari. Meski dibuka melemah, indeks sempat melonjak ke kisaran 5.110 pada menit-menit awal perdagangan, melampaui penutupan hari sebelumnya.

Penguatan itu tidak bertahan lama. IHSG berbalik arah dan terus tertekan hingga menyentuh titik terendah di kisaran 4.980 sekitar pukul 09.40 WIB, atau anjlok lebih dari 100 poin dari titik tertingginya.

Setelah itu, IHSG berangsur naik dan bergerak di rentang 5.000 hingga 5.060 sepanjang sisa sesi. Menjelang akhir perdagangan, indeks sempat menyentuh sekitar 5.073 pada pukul 15.30 WIB, sebelum ditutup sedikit lebih rendah di 5.057,05.

Berdasarkan data Refinitiv, sejumlah sektor yang membebani IHSG di antaranya utilities dengan pelemahan 4,85%; basic materials dengan penurunan 2,72%, dan real estate dengan penurunan 2,22%.

Saham-saham pemberat IHSG di perdagangan hari ini di antaranya PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA).

Sementara, saham penahan koreksi IHSG yaitu PT Astra International Tbk. (ASII), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Olympus Strategic Indonesia Tbk. (NATO).

Akhir pekan ini, pasar keuangan Indonesia dibayangi sejumlah kabar, rilis data hingga agenda yang sangat padat.

Jatuhnya Wall Street, data ekonomi AS yang kencang hingga kenaikan inflasi PCE AS bisa menjadi katalis buruk bagi bursa saham Indonesia hingga rupiah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,643% pada perdagangan Kamis kemarin, dari 7,706% pada Rabu.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena kembali dilirik investor. Kendati melandai, imbal hasil masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. BI Tak Otomatis Ikuti The Fed, Destry Siapkan Jurus Jaga Rupiah

Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan suku bunga acuan BI Rate pada November 2026 akan bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global, bukan otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral memiliki beragam instrumen untuk merespons tekanan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.100/US$.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan, desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global.

2. BEI Coret 5 Saham dari Daftar Short Selling, Ada BBCA-BUMI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan lima saham dari daftar efek short selling untuk November 2026. Daftar tersebut mencakup saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).

3. Inflasi PCE AS Menanjak

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat (AS) naik 0,5% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, setelah naik 0,3% pada Agustus, sekaligus sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kenaikan harga barang mencapai 0,8%, meningkat dari 0,3% pada bulan sebelumnya. Pendorong utamanya adalah harga barang tidak tahan lama yang melonjak 1,1%, terutama akibat kenaikan harga bensin dan produk energi lainnya sebesar 9,2%.

Adapun indeks harga PCE inti, yang tidak mencakup komponen pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir dan sesuai dengan perkiraan pasar.

Indeks PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi berdasarkan indikator ini telah bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% sejak 2021.

4. Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.

ECB menahan suku bunga operasi pembiayaan utama (main refinancing rate) di level 2,65% dan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) sebesar 2,50%.

5. Ekonomi AS Melesat

Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh pada laju tahunan sebesar 3,4% pada kuartal III-2026, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam setahun terakhir. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal II-2026 sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2%.

Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari investasi domestik swasta yang melonjak 19,4%, jauh di atas pertumbuhan 4,6% pada kuartal sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kuatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

6. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026

Hari ini, bank sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga. Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.

7. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026 dan Tingkat Pengangguran

Estimasi awal PDB zona euro dirilis hari ini, Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.

Tingkat pengangguran zona euro juga akan dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.

Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.

(asr/asr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Anjlok 1,2%, Tapi Asing Borong 10 Saham Ini


Most Popular
Features