IHSG Melemah Terus, Analis Beberkan Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Analis mengungkap penyebab berlanjutnya tren koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks terus berada dalam tekanan dan mencatatkan koreksi signifikan sepanjang pekan ini, sudah anjlok 7,48% secara akumulatif.
Analis mengungkapkan pelemahan pasar saham domestik dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi, hingga kekhawatiran investor terhadap evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.
Managing Director Solstice Indonesia Handiman mengatakan, salah satu faktor eksternal yang membebani pasar adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Meskipun bank sentral AS memutuskan untuk menahan suku bunga, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Dua pejabat The Fed secara terbuka mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin karena inflasi AS dinilai masih tinggi.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS kembali berubah. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember diperkirakan mencapai 80%, sehingga narasi higher for longer atau suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama kembali menjadi perhatian investor.
"Walaupun suku bunga ditahan, keputusan FOMC tidak bulat. Dua pejabat The Fed secara terbuka mendukung kenaikan 25 bps karena inflasi AS dinilai masih tinggi," ujar Handiman.
Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury hingga mencapai 5,042% turut mengurangi daya tarik aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan dananya kembali ke Amerika Serikat.
Tekanan eksternal juga datang dari eskalasi geopolitik yang kembali mengganggu prospek pasokan energi global. Serangan Houthi terhadap fasilitas kilang minyak Arab Saudi disebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah Brent pun melesat ke atas US$110 per barel. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus menambah beban fiskal Indonesia melalui kenaikan biaya energi dan subsidi.
Dari dalam negeri, Handiman menilai terdapat sejumlah faktor yang membuat tekanan terhadap IHSG semakin besar. Salah satunya adalah ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dari emerging market menjadi standalone market.
Ketidakpastian tersebut menjadi perhatian investor asing karena berpotensi memengaruhi persepsi terhadap kualitas dan daya tarik pasar modal Indonesia.
Tekanan juga berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.185 per dolar AS. Depresiasi rupiah semakin memperbesar risiko bagi investor asing yang menempatkan dana di aset-aset domestik.
Selain itu, rencana pengecualian saham HSC dari penghitungan IHSG mulai 2 November turut memicu potensi penyesuaian portofolio atau rebalancing dalam skala besar oleh manajer investasi.
"Lonjakan yield SBN ke kisaran 7,6%, tertinggi sejak akhir 2022. Kenaikan yield SBN ini mencerminkan tingginya persepsi risiko fiskal dan membuat pasar saham menjadi kurang kompetitif dibandingkan pasar obligasi domestik," jelas Handiman kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai koreksi IHSG saat ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan keputusan The Fed yang menahan suku bunga. Menurutnya, keputusan tersebut sebenarnya relatif positif bagi pasar global, tetapi belum cukup untuk menghilangkan tekanan yang berasal dari dalam negeri.
Salah satu persoalan utama adalah ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, khususnya mengenai transparansi kepemilikan saham dan investability atau tingkat kelayakan pasar Indonesia untuk diinvestasikan.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor asing memilih bersikap wait and see dan lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di pasar saham domestik.
Tekanan itu tercermin dari aksi jual bersih atau net sell investor asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan 29 Oktober, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,52 triliun di pasar reguler.
Aksi jual juga cukup terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama sektor perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Di sisi lain, Elandry menilai keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga belum cukup kuat menjadi katalis pembalikan arah IHSG. Investor masih mencermati prospek kebijakan moneter AS ke depan, perkembangan inflasi, serta arah pergerakan dolar AS.
"Jadi, saya melihat koreksi IHSG saat ini merupakan kombinasi dari capital outflow, tekanan rupiah, dan meningkatnya risk premium terhadap pasar domestik," ujar Elandry kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, selama arus dana asing belum kembali dan kepercayaan investor belum pulih, volatilitas IHSG kemungkinan masih akan cukup tinggi.