MARKET DATA

Breaking, IHSG Anjlok 1% Lebih ke Level 6.506

Redaksi,  CNBC Indonesia
11 September 2026 09:03
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026). IHSG turun 36,55 poin atau 0,55% ke level 6.552,79.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, koreksi IHSG semakin besar satu menit setelah pasar buka, dengan level terendah ambruk lebih dari 1% ke level 6.506. Sebanyak 111 saham menguat, 243 saham melemah, dan 289 saham stagnan.

Adapun volume perdagangan pada awal sesi mencapai 2,39 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,07 triliun.

Sentimen pasar hari ini diperkirakan bergerak hati-hati setelah data ekonomi kemarin memberikan sinyal beragam. Penjualan ritel Indonesia kembali tumbuh dan Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi.

Sementara itu, inflasi produsen AS menguat dan pasar tenaga kerjanya tetap solid. Perhatian investor hari ini akan beralih kepada inflasi produsen Jepang, inflasi konsumen AS, serta sentimen konsumen AS yang berpotensi menentukan arah pasar menjelang akhir pekan.

Pergerakan harga minyak dan imbal hasil US Treasury juga menjadi perhatian pasar.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dengan saham Korea Selatan dan Jepang memimpin penurunan di kawasan tersebut. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, anjlok 2,7%.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,6%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1%. Penurunan bursa Asia terjadi setelah saham-saham Amerika Serikat (AS) tertekan oleh lonjakan harga minyak pada perdagangan Kamis.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei di tengah berlanjutnya konflik antara AS dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh.

Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil surat utang AS atau Treasury. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menembus 4,95% dan mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.

Pelaku pasar juga mencermati data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk Agustus yang dirilis pada Kamis. PPI meningkat 0,4% secara bulanan dan naik 5,4% secara tahunan, yang menunjukkan tekanan inflasi di tingkat grosir masih tinggi.

Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk Agustus yang akan diumumkan pada Jumat. 

Data CPI menjadi salah satu indikator penting yang akan memengaruhi keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang. Berdasarkan perdagangan Fed funds futures, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 71%, menurut CME Group melalui alat FedWatch.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,30% ke Level 6.639


Most Popular
Features