Internasional

Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga Acuan 2,5%

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 30/10/2026 11:15 WIB
Foto: Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menghadiri konferensi pers setelah pertemuan dewan pemerintahan ECB di Frankfurt, Jerman, Kamis, 6 Juni 2024. (AP/Michael Probst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan mempertahankan suku bunga pada Kamis waktu setempat. Hal ini sesuai dengan ekspektasi pasar, meskipun inflasi zona euro meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun.

Keputusan tersebut mempertahankan suku bunga utama bank sentral, yakni suku bunga fasilitas deposito, di level 2,5%. Sebelumnya di September, ECB menaikkannya sebesar 25 basis poin.


Dalam pernyataannya, Dewan Gubernur ECB mengatakan kenaikan harga energi menimbulkan risiko inflasi yang lebih tinggi sekaligus risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun, inflasi inti dan upah sejauh ini secara umum masih stabil.

"Pada saat ini, kami belum melihat dampak lanjutan di luar apa yang sudah tercakup dalam proyeksi yang dirilis pada September," kata Presiden ECB Christine Lagarde, dikutip CNBC International, Jumat (30/10/2026).

Lagarde mengidentifikasi sejumlah perkembangan utama sejak pertemuan terakhir ECB, yakni kenaikan biaya energi untuk minyak mentah, bensin, bahan bakar, gas, serta margin pengolahan minyak. Selain itu, biaya pembiayaan jangka panjang juga meningkat tajam, dengan rata-rata imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik sekitar 35 basis poin.

"Jika kedua faktor ini digabungkan, Dewan Gubernur sebenarnya memperdebatkan apakah kenaikan suku bunga merupakan langkah yang tepat," ujarnya.

"Namun, dengan mempertimbangkan ketidakpastian yang terus terakumulasi dan meningkat, serta inflasi inti yang secara umum tidak berubah, Dewan Gubernur secara bulat memutuskan bahwa posisi kami saat ini cukup kuat untuk mempertahankan suku bunga. Pendekatan yang terukur pada tahap ini tetap menjadi langkah yang tepat," kata Lagarde.

Menurut data LSEG, pasar uang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 67% setelah pengumuman tersebut. Dolar AS melanjutkan penguatannya terhadap euro setelah keputusan ECB.

Inflasi utama di kawasan euro mencapai 3,8% pada bulan lalu, level tertinggi sejak September 2023. Inflasi harga energi mencapai 18,8% di tengah gejolak yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Kembali meningkatnya tekanan harga energi setelah pecahnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran pada Februari membuat ECB menaikkan suku bunga pada Juni. Langkah itu dilakukan untuk pertama kalinya sejak 2023.

Dalam penjelasan mengenai keputusan pada Kamis, Dewan Gubernur ECB menyatakan ekonomi kawasan euro terus tumbuh pada kuartal III tahun ini. Sektor jasa juga menunjukkan pemulihan sejak konflik Timur Tengah dimulai.

Investasi terkait kecerdasan buatan (AI) mendorong aktivitas manufaktur, layanan digital, dan ekspor. Sementara itu, belanja pemerintah untuk infrastruktur dan pertahanan turut menopang aktivitas bisnis.

Namun, tekanan harga energi diperkirakan akan membebani kepercayaan konsumen, sementara kenaikan biaya pembiayaan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Dalam konferensi pers, Lagarde mengatakan ECB akan terus memantau kenaikan biaya pinjaman Prancis serta meningkatnya fragmentasi pasar yang membuat sejumlah pelaku pasar khawatir.

Lagarde mencatat bahwa biaya pinjaman jangka panjang meningkat signifikan di berbagai negara. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan suku bunga, serta "penerbitan utang oleh sejumlah perusahaan hyperscaler".

Ia mengatakan perusahaan-perusahaan teknologi besar tersebut semakin banyak menerbitkan obligasi jangka panjang. Sehingga, meningkatkan persaingan dalam memperoleh pendanaan.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga Lagi, Tertinggi Sejak 1995