MARKET DATA

Jangan Campur Sentimen MSCI, OJK Ungkap Data Fundamental

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
30 October 2026 08:20
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden RI)
Foto: (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta pelaku usaha membedakan sentimen terkait MSCI dari fundamental perusahaan dan fundamental ekonomi Indonesia di tengah industri pasar saham yang sedang bergejolak.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, berdasarkan laporan emiten kuartal II 2026, 72% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kenaikan pendapatan sekitar 15%, dengan laba bersih naik 16%.

"Jadi sebetulnya fundamental perusahaan-perusahaan cukup baik. Belum lagi Bapak Ibu di sini lebih paham daripada saya terkait potensi tambang dan lain-lain yang sangat sangat sangat punya potensi ke depan," ujarnya dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, dikutip Jumat (30/10/2026).


Selain itu, wanita yang akrab disapa Kiki ini juga menyebut bank-bank Indonesia memiliki net interest margin (NIM) yang termasuk tertinggi di dunia. Ia memaparkan, pertumbuhan kredit 13,6% pada bulan sebelumnya, tertinggi dalam 10 tahun terakhir, sebelum turun sedikit ke 13,2%.

Sementara total kredit mencapai lebih dari Rp9.200 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dua digit menjadi Rp10.492 triliun. Rasio permodalan tercatat 24,3%, rasio kredit bermasalah (NPL) 2,07%, dan aset likuid terhadap DPK 24,08%. Kredit korporasi tumbuh 21,03%, kredit UMKM naik 2,68% setelah terkontraksi di awal tahun, sementara rasio LDR industri 88,11%.

"Kalau kita lihat kredit perbankan sejalan dengan kinerja penjualan emiten di pasar modal Indonesia. Dari sektor pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan lain-lain, ini juga sangat baik," imbuhnya

Friderica menambahkan, di tengah harga minyak di atas US$100 per barel dan ketegangan sosial di berbagai belahan dunia, lembaga seperti IMF, Bank Dunia, dan OECD justru menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027. Ia mengajak pelaku usaha tetap yakin pada masa depan pasar modal.

Menurutnya, hal tersebut menimbulkan satu optimisme dan juga harapan kemungkinan sektor juga memiliki kinerja yang optimal. sehingga, dapat terus mendorong pengembangan dunia usaha.

"Jadi bedakan antara sentimen saat ini dengan apa yang fundamental yang ada di perusahaan-perusahaan tersebut dan juga ekonomi Indonesia," tutupnya.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pagi-Pagi Ada Informasi Penting dari OJK Tentang Pasar Saham RI


Most Popular
Features