Breaking! IHSG Turun 1%, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya di sesi I melemah pada awal perdagangan Jumat (30/10/2026). Pada pukul 09.13 WIB, IHSG berada di level 5.046,42, turun 51,64 poin atau 1,01%.
IHSG dibuka di posisi 5.066,94 pada pukul 09.00 WIB, sudah lebih rendah dari penutupan perdagangan sebelumnya. Setelah pembukaan, indeks sempat berbalik naik dan menyentuh level tertinggi di 5.116,01. Penguatan itu tidak bertahan lama. Indeks bergerak turun bertahap hingga mencapai level terendah di 5.043,31.
Dari sisi aktivitas, transaksi pada pagi hari ini mencatatkan volume sebesar 84,71 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp1.704,69 miliar atau sekitar Rp1,70 triliun.
Pelemahan IHSG pada perdagangan pagi ini disebabkan oleh sejumlah sektor. Sektor yang menjadi beban terbesar antara lain sektor infrastruktur yang anjlok 1,9%, disusul oleh sektor konsumer kritikal yang turun 1,3%, dan sektor industri yang -1,1%.
Adapun saham-saham pemberat antara lain, PT. Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT. Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA), PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT. Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA).
Sementara saham-saham penekan koreksi IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT. Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), PT. Astra International Tbk. (ASII), dan PT. Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).
Akhir pekan ini, pasar keuangan Indonesia dibayangi sejumlah kabar, rilsi data hingga agenda yang sangat padat.
Jatuhnya Wall Street, data ekonomi AS yang kencang hingga kenaikan inflasi PCE AS bisa menjadi katalis buruk bagi bursa saham Indonesia hingga rupiah.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,643% pada perdagangan Kamis kemarin, dari 7,706% pada Rabu.
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena kembali dilirik investor.
Kendati melandai, imbal hasil masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. BI Tak Otomatis Ikuti The Fed, Destry Siapkan Jurus Jaga Rupiah
Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan suku bunga acuan BI Rate pada November 2026 akan bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global, bukan otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral memiliki beragam instrumen untuk merespons tekanan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.100/US$.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan, desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global.
2. BEI Coret 5 Saham dari Daftar Short Selling, Ada BBCA-BUMI
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan lima saham dari daftar efek short selling untuk November 2026. Daftar tersebut mencakup saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).
3. Inflasi PCE AS Menanjak
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat (AS) naik 0,5% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, setelah naik 0,3% pada Agustus, sekaligus sesuai dengan ekspektasi pasar.
Kenaikan harga barang mencapai 0,8%, meningkat dari 0,3% pada bulan sebelumnya. Pendorong utamanya adalah harga barang tidak tahan lama yang melonjak 1,1%, terutama akibat kenaikan harga bensin dan produk energi lainnya sebesar 9,2%.
Adapun indeks harga PCE inti, yang tidak mencakup komponen pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir dan sesuai dengan perkiraan pasar.
Indeks PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi berdasarkan indikator ini telah bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% sejak 2021.
4. Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga
Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
ECB menahan suku bunga operasi pembiayaan utama (main refinancing rate) di level 2,65% dan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) sebesar 2,50%.
5. Ekonomi AS Melesat
Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh pada laju tahunan sebesar 3,4% pada kuartal III-2026, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam setahun terakhir. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal II-2026 sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2%.
Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari investasi domestik swasta yang melonjak 19,4%, jauh di atas pertumbuhan 4,6% pada kuartal sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kuatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
6. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026
Hari ini, bank sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga.
Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.
7. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026 dan Tingkat Pengangguran
Estimasi awal PDB zona euro dirilis hari ini, Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.
Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.
Tingkat pengangguran zona euro juga akan dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.
Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.
(rob/rob)