Akhiri Sesi I, IHSG Turun 2,6% ke 5.142
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (29/10/2026). IHSG berada di level 5.142,82, turun 139,49 poin atau 2,64%
Padahal, IHSG dibuka menguat di level 5.305,20 dan sempat menyentuh titik tertinggi di 5.320,90. Namun, indeks segera berbalik arah dan merosot tajam dalam sekitar satu jam pertama perdagangan, hingga menembus area 5.200 sebelum pukul 10:00 WIB.
Setelahnya, pergerakan cenderung mendatar di kisaran 5.140 hingga 5.180, dengan titik terendah hari ini tercatat di 5.135,52. Posisi indeks saat ini berada dekat dengan level terendah tersebut.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 141,84 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5.663,48 miliar.
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diharapkan berkurang pada hari ini setelah The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, rilis data inflasi PCE Amerika serta perkembangan perang bisa menekan pergerakan saham hingga rupiah. Lonjakan imbal hasil SBN juga akan menjadi perhatian pasar.
Berikut beberapa sentimen hari ini:
1. The Fed Tahan Suku Bunga
The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4,00%, tetapi keputusan pada Kamis (29/10/2026) tidak bulat. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin.
The Fed menyebut inflasi masih tinggi dan membuka peluang penyesuaian suku bunga lanjutan. Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya, seraya menegaskan bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2%.
Warsh juga menilai ekonomi AS semakin kuat, dengan pertumbuhan semester I-2026 direvisi naik menjadi 2,4%. Namun, tingginya suku bunga masih menekan biaya pinjaman dan memengaruhi investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan diumumkan.
2. Inflasi PCE AS September 2026
AS akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada hari ini Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.
Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).
Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.
Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
3. Klaim Pengangguran AS
AS juga akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 24 Oktober 2026.
Klaim awal pengangguran Amerika Serikat (AS) turun 6.000 menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026, terendah sejak pertengahan Juli dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 200.000, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
Penurunan ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi. Laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik yang bertahan membantu menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Namun, mahalnya energi akibat perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta kebijakan perdagangan membayangi keputusan perekrutan perusahaan.
4. Suku Bunga ECB Oktober 2026
Bank sentral Eropa (ECB) hari ini akan mengumumkan keputusan pukul 20.15 WIB, disusul konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap 2,65% dan fasilitas deposito bertahan di 2,50%.
Perhatian tertuju pada respons ECB terhadap risiko inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan. Keputusan mempertahankan bunga perlu dibaca bersama arah komunikasinya, terutama mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan dan penilaian terhadap tekanan biaya energi.
Bagi pasar global, perubahan nada ECB dapat memengaruhi euro, obligasi Eropa, serta pergerakan dolar secara relatif. Karena pengumumannya berdekatan dengan rilis utama AS, investor perlu mencermati kombinasi kedua perkembangan tersebut, bukan menilai salah satunya secara terpisah.