Bursa Asia Dibuka Variatif, Investor Khawatirkan Prospek AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan tekanan cukup besar datang dari bursa Korea Selatan. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) setelah sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) merilis kinerja keuangan dan proyeksi bisnis yang mengecewakan.
Melansir CNBC, di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,68%, sedangkan indeks Topix menguat 0,26%. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 3,11% saat pembukaan perdagangan, diikuti indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq yang turun 2,35%.
Beralih ke Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 justru menguat 0,65%. Pergerakan bursa Asia tersebut terjadi setelah sejumlah saham teknologi AS mengalami tekanan dalam perdagangan setelah jam bursa (extended trading).
Saham Amazon anjlok 6% dalam perdagangan setelah jam bursa setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal III-2026 yang berada di bawah ekspektasi Wall Street, baik dari sisi laba maupun pendapatan. Perusahaan juga mencatatkan arus kas bebas negatif sebesar US$42,4 miliar dan mempertahankan proyeksi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 sebesar US$220 miliar.
Saham Intel juga merosot 21% setelah perusahaan memberikan proyeksi kinerja kuartal berjalan yang lemah, dengan menyoroti perlambatan pasar komputer pribadi (personal computer/PC). Pendapatan dari segmen Client Computing and Physical Artificial Intelligence turun 5% secara tahunan menjadi US$8,1 miliar.
Sementara itu, saham Sandisk terkoreksi 3% dalam perdagangan setelah jam bursa meskipun hasil kinerja fiskal kuartal I perusahaan tersebut melampaui ekspektasi. Perusahaan penyimpanan data itu juga mengumumkan rencana pemecahan saham atau stock split dengan rasio delapan banding satu.
Tekanan saham teknologi tersebut terjadi ketika investor semakin mencermati prospek investasi di sektor AI. Dalam perdagangan reguler Kamis (29/10/2026), saham Alphabet anjlok 12% setelah perusahaan induk Google tersebut membukukan laba dan pendapatan kuartal III yang berada di bawah ekspektasi serta mencatatkan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar.
Pelemahan saham Alphabet turut menyeret indeks Nasdaq Composite turun 1,4% pada perdagangan reguler. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,3%.
Jumat (30/10/2026) menjadi hari perdagangan terakhir pada Oktober, dengan sektor AI menjadi salah satu perhatian utama investor sepanjang bulan ini. Pelaku pasar mencermati besarnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI, terutama setelah perusahaan hyperscaler seperti Alphabet dan Microsoft tidak menaikkan proyeksi belanja modal mereka.
Di sisi lain, perusahaan neocloud atau penyedia layanan komputasi awan yang membangun infrastruktur untuk pusat data AI juga menghadapi sorotan investor terkait tingkat utang mereka. CoreWeave menjadi salah satu perusahaan yang paling disorot setelah imbal hasil obligasinya melonjak, sementara sahamnya telah anjlok 30% sepanjang Oktober.
Nebius juga berada di jalur penurunan sebesar 27% sepanjang bulan ini. Tekanan turut terlihat pada sejumlah instrumen investasi yang memiliki eksposur terhadap sektor AI, termasuk Roundhill Memory ETF (DRAM) yang turun 14% dan iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) yang melemah 10% sepanjang Oktober.
Menjelang penutupan bulan, Nasdaq Composite berada di jalur pelemahan 2,5% sepanjang Oktober. Sebaliknya, indeks S&P 500 diproyeksikan mencatatkan kenaikan 0,9%, sedangkan Dow Jones Industrial Average berada di jalur penguatan 2,8%.
(rob/rob)