Harga Cabai Semahal Daging, Bos BI Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyoroti harga cabai karena menyumbang kenaikan inflasi pangan. Dirinya menyebut hal ini menjadi tantangan dalam menjaga inflasi dalam rentang target 2,5+-1% atau 1,5%-3,5% pada tahun ini.
Seperti diketahui, BPS mencatat secara tahun ke tahun atau year on year, inflasi sebesar 3,28% dan secara secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 2,17% (year to date/ytd) atau masih dalam rentang target tersebut.
Akan tetapi di sisi lain, inflasi komponen harga bergejolak pada September 2026 mencapai 5,03% secara tahunan.
"Inflasi alhamdulillah masih terkendali, tapi memang ada tantangan, food inflation atau volatile food inflation, ini menjadi tantangan kita," ucap Destry saat Rapimnas KADIN, Jakarta pada Kamis (29/10/2026).
Destry melihat sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi pada September 2026 antara lain daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Tantangan pertama, bagi Destry, adalah mampu menurunkan harga beras. Menurutnya masalah utama harga beras melonjak adalah di faktor distribusi.
"Beras itu ternyata distribusi masalahnya, karena stok beras itu sebenarnya banyak, 4,9 juta ton, dan itu sebenarnya the highest ever, tapi ternyata mungkin ada masalah distribusi yang perlu diperhatikan," ujarnya.
Kedua adalah harga cabai yang sudah naik tinggi, bahkan disebutnya sudah sejajar dengan harga daging sapi.
"Cabai ini cabai harganya naiknya luar biasa, harga cabai satu kilo udah kayak harga daging satu kilo," imbuhnya.
Bagi bank sentral, kondisi kenaikan harga pangan ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa digarap sendirian oleh BI. Perlu adanya orkestrasi menyelesaikan persoalan inflasi pangan yang tinggi.
Pasalnya, inflasi pangan terjadi karena adanya pengaruh dari sisi pasokan. Sementara Bank Indonesia bekerja mengendalikan inflasi melalui sisi permintaan, sehingga perlu adanya koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait lainnya.
"Jadi ini catatan dan ini juga kami waktu sampaikan kepada Bapak Presiden, karena gak mungkin BI menangani ini sendiri," tutur Destry.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]