Terbesar di Asia Tenggara, OJK: Ritel Bisa Jadi Benteng Hadapi Gejolak
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, tumbuhnya investor ritel dari masa ke masa dapat menjadi bantalan pasar saham RI dalam menghadapi gejolak pasar modal. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut jumlah investor pasar modal Indonesia kini mencapai 33 juta orang, melonjak dari sekitar 250.000 investor ritel pada masa awal kariernya.
"Mungkin ini tertinggi ya di Asia Tenggara," ujarnya dalam acara Rapimnas Kadin di Jakarta, dikutip Jumat (30/10/2026).
Angka itu dihitung berdasarkan single investor identification, sehingga satu orang yang memiliki akun di lima sekuritas tetap dihitung satu.
Menurut wanita yang akrab disapa Kiki ini, lonjakan investor didorong perkembangan teknologi dan pandemi, saat banyak orang beraktivitas di rumah dan membuka akun. Kini investor ritel mendominasi lebih dari 55% porsi transaksi di pasar modal Indonesia.
"Dengan perkembangan teknologi kemarin saat pandemi juga kemudian orang mungkin banyak kegiatan di rumah, akhirnya mereka buka akun," ungkapnya.
Di sisi pendanaan, penghimpunan dana di pasar modal tahun ini tercatat Rp200 triliun, berasal dari IPO, efek bersifat utang dan sukuk, hingga right issue. Jumlah emiten disebutnya 974, nomor dua tertinggi setelah Malaysia.
"Itu adalah membuka jendela untuk berbagai alternatif pendanaan yang yang luas," imbuhnya.
Ia menambahkan, dengan jumlah para investor ritel domestik yang terus tumbuh dapat menjadi pertahanan kuat industri pasar modal RI
"Jadi ini sesuatu yang juga sangat kita, kita, kita banggakan, karena ini kenapa kita dari dulu pengin membukan investor retail Indonesia, supaya kalau terjadi gonjang-ganjing terkait dengan global economics dan lain-lain, itu enggak terlalu ngaruh kepada market kita, karena masyarakat yang retail yang domestik sudah cukup kuat," tutupnya.
(rob/rob)