BEI: Bursa RI Paling Transparan di Dunia, Sejajar dengan Hong Kong
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim saat ini bursa RI menjadi salah satu pasar dengan tingkat transparansi tertinggi di dunia. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut, Indonesia menjadi salah sau negara yang membuka data pemegang saham di atas 1% setelah India.
"Kita adalah mungkin dua negara di dunia, kita dengan India yang disclose pemegang saham di atas 1%," ujarnya, dalam acara Kearney 100 Years of Impact di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
BEI juga merinci klasifikasi tipe investor secara lebih granular, dari sebelumnya 9 tipe menjadi 39 tipe.
Selain itu, BEI mengungkap daftar saham yang terindikasi memiliki kepemilikan terkonsentrasi atau high shareholding concentration. Menurut Jeffrey, hanya Hong Kong dan Indonesia yang melakukan hal tersebut.
"kita hanya dua juga negara di dunia yang melakukan itu, yaitu Hong Kong dan Indonesia. Jadi kalau bicara transparansi, saat ini Indonesia mungkin adalah eh bursa atau market dengan transparansi paling tinggi di dunia," ungkapnya.
BEI memastikan saham-saham yang masuk dalam daftar HSC tidak akan lagi diperhitungkan dalam IHSG mulai 2 November 2026. Kebijakan ini dipastikan tidak akan memicu penurunan drastis maupun lonjakan pada indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut.
Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari langkah sebelumnya yang mengecualikan saham-saham HSC dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Dalam implementasinya, bobot saham-saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.
"Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis, ya sama seperti kalau kita mengeluarkan saham tertentu, distribusi dari bobot itu akan diberikan kepada sisa saham-saham lain yang masih ada di dalam konstituen indeks," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (26/10/2026).
Jeffrey menambahkan, pergerakan IHSG setelah kebijakan tersebut diterapkan akan bergantung pada pergerakan harga saham-saham yang masih menjadi konstituen indeks. Oleh karena itu, pengeluaran saham HSC dari perhitungan indeks tidak serta-merta membuat IHSG mengalami penurunan atau kenaikan secara drastis.
BEI juga telah melakukan pengujian historis atau back test untuk mengukur dampak pengeluaran saham-saham HSC dari perhitungan IHSG. Hasil pengujian tersebut menunjukkan kebijakan ini tidak akan mengakibatkan lonjakan pada indeks.
Sebaliknya, BEI berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan kredibilitas IHSG agar semakin representatif dalam menggambarkan pergerakan pasar saham Indonesia. Dengan demikian, IHSG diharapkan dapat menjadi acuan yang lebih baik bagi investor untuk melacak pergerakan pasar saham domestik.