Laba Bank Jago (ARTO) Naik 49,7% di Kuartal III-2026, Ini Faktornya
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten perbankan PT Bank Jago Tbk. (ARTO) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 49,7% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp298,08 miliar hingga 30 September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Bank Jago membukukan laba bersih sebesar Rp199,13 miliar.
Menilik laporan keuangannya, pertumbuhan laba ditopang oleh pendapatan bunga sebesar Rp3,16 triliun, meningkat 28,0% dibandingkan Rp2,47 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, beban bunga naik menjadi Rp855,41 miliar dari Rp689,59 miliar. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih Bank Jago mencapai Rp2,30 triliun, tumbuh 29,6% dibandingkan Rp1,78 triliun pada September 2025.
Dari sisi pendapatan operasional lainnya, perseroan mencatatkan sejumlah peningkatan. Pendapatan lainnya naik menjadi Rp419,33 miliar dari Rp245,29 miliar. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi juga meningkat menjadi Rp13,28 miliar dari Rp7,78 miliar.
Meski demikian, sejumlah pos mengalami penurunan kinerja. Seperti beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment meningkat menjadi Rp883,10 miliar dari Rp623,14 miliar. Beban tenaga kerja juga naik menjadi Rp465,86 miliar dari Rp409,17 miliar, sedangkan beban lainnya meningkat menjadi Rp961,11 miliar dari Rp735,98 miliar.
Secara keseluruhan, pendapatan atau beban operasional lainnya mencatatkan posisi negatif Rp1,92 triliun, lebih besar dibandingkan posisi negatif Rp1,52 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kendati demikian, laba sebelum pajak Bank Jago tetap meningkat menjadi Rp383,87 miliar dari Rp255,45 miliar. Setelah memperhitungkan pajak penghasilan, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp298,08 miliar.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp27,9 triliun per September 2026, meningkat 19% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp23,5 triliun.
Kualitas kredit juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,9%, lebih rendah dibanding rata-rata NPL perbankan nasional.
Pada pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Jago mencapai Rp28,9 triliun, meningkat 21% dari Rp23,9 triliun pada akhir September 2025. Porsi current account and savings account (CASA) mendominasi DPK sebesar 53% atau setara Rp15,4 triliun, sedangkan deposito menyumbang 47% atau Rp13,5 triliun.
Dengan demikian, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) masih amat ketat pada level 96,60%, meski telah turun dari 98,21%.
"Fokus kami yang mengedepankan pertumbuhan berkualitas, baik pengumpulan dana maupun penyaluran kredit, berdampak positif pada pencapaian kinerja serta posisi fundamental bank yang berada dalam posisi sangat baik," kata Direktur Utama Bank Jago Arief Harris dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Dari sisi neraca, aset Bank Jago mencapai Rp42,1 triliun per September 2026, naik 22% yoy dari Rp34,5 triliun pada September 2025. Sementara, dari sisi rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 27,5%. Hingga akhir September 2026, nasabah ARTO tercatat sebesar 19 juta nasabah, termasuk sebanyak 13,1 juta nasabah funding.