Era Likuiditas Ketat, Bos BTN (BBTN) Ungkap Dampak Perang Suku Bunga
Bandung, CNBC Indonesia - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengungkapkan persaingan suku bunga simpanan di tengah likuiditas perbankan yang semakin ketat berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perseroan. Kenaikan biaya dana atau cost of fund menjadi tantangan bagi BTN dalam menjaga pertumbuhan laba hingga akhir 2026.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pertumbuhan laba perseroan yang sejauh ini tumbuh tinggi diperkirakan akan menyusut pada semester II-2026. Tekanan terutama berasal dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), seiring meningkatnya biaya penghimpunan dana.
"Saya bisa bilang bahwa semester 2 ini growth-nya pasti growth-nya akan turun. Saya bisa memastikan itu. Terutama dari mana? Dari NII, kenapa? Cost of fund naik. Everybody knows," ujar Nixon dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "TRANSFORMASI BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan" Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, persaingan menghimpun dana semakin ketat, tercermin dari banyaknya penawaran bunga untuk dana institusi besar yang berada di atas 8%. Kondisi tersebut mendorong bank menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi demi mendapatkan dana, sehingga biaya pendanaan semakin mahal.
Nixon menjelaskan, ketika likuiditas semakin terbatas, pemilik dana memiliki keleluasaan untuk memilih bank yang menawarkan tingkat bunga tertinggi. Situasi ini membuat persaingan harga dana semakin intensif dan berpotensi menggerus margin perbankan.
"Iya mahal itu karena likuiditasnya semakin terbatas kan. Jadi yang punya dana tuh jadi naikin permintaan harga kan. Ini kan si deposan, dia milih-milih dong yang mana penawar tertinggi. Itu yang terjadi," ujar Nixon.
Di tengah tekanan tersebut, BTN berupaya menjaga profitabilitas melalui perbaikan kualitas aset, efisiensi proses bisnis, serta pengendalian biaya pendanaan. Perseroan telah melakukan upaya penurunan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) selama dua hingga tiga tahun terakhir.
Nixon mengatakan, target NPL sebesar 2,9% yang sebelumnya ditetapkan untuk akhir tahun telah tercapai pada September 2026. BTN pun membuka peluang rasio NPL turun ke kisaran 2,7%-2,8% pada Desember 2026, sehingga dapat membantu menekan biaya kredit atau cost of credit dan kebutuhan pencadangan.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income dari transaksi treasury juga menjadi salah satu sumber pendapatan BTN. Namun, volatilitas pasar surat berharga turut memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan surat berharga yang menjadi kontributor utama bisnis treasury perseroan.
Untuk mengantisipasi tekanan yang berlanjut, BTN berupaya melakukan efisiensi agar mahalnya biaya dana tidak menjadi persoalan berkepanjangan hingga tahun depan. Nixon juga menegaskan bahwa perseroan akan mempertimbangkan penyesuaian target pertumbuhan kredit apabila biaya pendanaan tetap tinggi.
"Kalau dana masih terus mahal, maka kita harus berani mengatakan pertumbuhan kreditnya kita akan sesuaikan," kata Nixon.
Menurutnya, ekspansi kredit dengan biaya dana yang terlalu mahal berisiko menekan profitabilitas. Oleh karena itu, BTN perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan biaya pendanaan agar ekspansi bisnis tetap memberikan kontribusi positif bagi perseroan.
Meski demikian, BTN memastikan penyaluran kredit untuk program pemerintah tetap berjalan karena memperoleh dukungan likuiditas yang telah disiapkan pemerintah. Salah satunya adalah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
"Jadi teman-teman nggak usah takut, FLPP jalan enggak? Jalan, orang likuiditasnya ada," ujar Nixon.
Di sisi lain, BTN menyambut positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan giro wajib minimum (GWM) perbankan. Nixon memperkirakan penurunan GWM sebesar 1% berpotensi memberikan tambahan likuiditas bagi BTN hingga sekitar Rp4 triliun. Jika perseroan dapat memanfaatkan penurunan GWM sebesar 2%, tambahan likuiditas diperkirakan mencapai Rp6 triliun-Rp8 triliun.
"Kalau dugaan saya ya BTN tuh 1 persen GWM itu sekitar maksimum Rp4 triliun. Jadi kalau kita bisa nikmati 2% ya mungkin antara Rp6 triliun sampai Rp8 triliun, lah. Tapi aku lagi minta treasury ngitung dampak ke kita berapa tepatnya," katanya. - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengungkapkan persaingan suku bunga simpanan di tengah likuiditas perbankan yang semakin ketat berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perseroan. Kenaikan biaya dana atau cost of fund menjadi tantangan bagi BTN dalam menjaga pertumbuhan laba hingga akhir 2026.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pertumbuhan laba perseroan yang sejauh ini tumbuh tinggi diperkirakan akan menyusut pada semester II-2026. Tekanan terutama berasal dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), seiring meningkatnya biaya penghimpunan dana.
"Saya bisa bilang bahwa semester 2 ini growth-nya pasti growth-nya akan turun. Saya bisa memastikan itu. Terutama dari mana? Dari NII, kenapa? Cost of fund naik. Everybody knows," ujar Nixon dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "TRANSFORMASI BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan" Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026)..
Menurutnya, persaingan menghimpun dana semakin ketat, tercermin dari banyaknya penawaran bunga untuk dana institusi besar yang berada di atas 8%. Kondisi tersebut mendorong bank menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi demi mendapatkan dana, sehingga biaya pendanaan semakin mahal.
Nixon menjelaskan, ketika likuiditas semakin terbatas, pemilik dana memiliki keleluasaan untuk memilih bank yang menawarkan tingkat bunga tertinggi. Situasi ini membuat persaingan harga dana semakin intensif dan berpotensi menggerus margin perbankan.
"Iya mahal itu karena likuiditasnya semakin terbatas kan. Jadi yang punya dana tuh jadi naikin permintaan harga kan. Ini kan si deposan, dia milih-milih dong yang mana penawar tertinggi. Itu yang terjadi," ujar Nixon.
Di tengah tekanan tersebut, BTN berupaya menjaga profitabilitas melalui perbaikan kualitas aset, efisiensi proses bisnis, serta pengendalian biaya pendanaan. Perseroan telah melakukan upaya penurunan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) selama dua hingga tiga tahun terakhir.
Nixon mengatakan, target NPL sebesar 2,9% yang sebelumnya ditetapkan untuk akhir tahun telah tercapai pada September 2026. BTN pun membuka peluang rasio NPL turun ke kisaran 2,7%-2,8% pada Desember 2026, sehingga dapat membantu menekan biaya kredit atau cost of credit dan kebutuhan pencadangan.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income dari transaksi treasury juga menjadi salah satu sumber pendapatan BTN. Namun, volatilitas pasar surat berharga turut memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan surat berharga yang menjadi kontributor utama bisnis treasury perseroan.
Untuk mengantisipasi tekanan yang berlanjut, BTN berupaya melakukan efisiensi agar mahalnya biaya dana tidak menjadi persoalan berkepanjangan hingga tahun depan. Nixon juga menegaskan bahwa perseroan akan mempertimbangkan penyesuaian target pertumbuhan kredit apabila biaya pendanaan tetap tinggi.
"Kalau dana masih terus mahal, maka kita harus berani mengatakan pertumbuhan kreditnya kita akan sesuaikan," kata Nixon.
Menurutnya, ekspansi kredit dengan biaya dana yang terlalu mahal berisiko menekan profitabilitas. Oleh karena itu, BTN perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan biaya pendanaan agar ekspansi bisnis tetap memberikan kontribusi positif bagi perseroan.
Meski demikian, BTN memastikan penyaluran kredit untuk program pemerintah tetap berjalan karena memperoleh dukungan likuiditas yang telah disiapkan pemerintah. Salah satunya adalah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
"Jadi teman-teman nggak usah takut, FLPP jalan enggak? Jalan, orang likuiditasnya ada," ujar Nixon.
Di sisi lain, BTN menyambut positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan giro wajib minimum (GWM) perbankan. Nixon memperkirakan penurunan GWM sebesar 1% berpotensi memberikan tambahan likuiditas bagi BTN hingga sekitar Rp4 triliun. Jika perseroan dapat memanfaatkan penurunan GWM sebesar 2%, tambahan likuiditas diperkirakan mencapai Rp6 triliun-Rp8 triliun.
"Kalau dugaan saya ya BTN tuh 1 persen GWM itu sekitar maksimum Rp4 triliun. Jadi kalau kita bisa nikmati 2% ya mungkin antara Rp6 triliun sampai Rp8 triliun, lah. Tapi aku lagi minta treasury ngitung dampak ke kita berapa tepatnya," katanya.
(rob/rob)