MARKET DATA

IHSG Meroket 1%, Ini Penyebabnya

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
23 October 2026 10:39
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatannya di sesi pertama hari ini. IHSG berada di level 5.449,09, naik 61,18 poin atau 1,14% pada pukul 10.24 WIB.

IHSG sudah menguat sejak awal pembukaan di level 5.397,34, dengan menguat 0,18%. Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi hingga pukul 10.23 WIB tercatat sebanyak 161,48 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5,08 triliun.

Mengutip data Refinitiv, penguatan IHSG didorong oleh sektor energi yang meroket 2,3%, disusul oleh sektor material dasar yang naik 2%, dan sektor konsumer kritikal yang naik 1,9%.


Adapun saham-saham pengungkit IHSG antara lain, PT. Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT. Astra International Tbk (ASII), PT. Bayan Resources Tbk (BYAN), PT. Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Sementara saham-saham penekan ruang gerak IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT. DCI Indonesia Tbk (DCII), PT. Bank Mega Tbk (MEGA), PT. Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), dan PT. Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Pada perdagangan Jumat ini, pasar masih akan mencermati beberapa perkembangan dari dalam negeri, terutama terkait kebijakan pemerintah, kondisi industri perbankan, dan perkembangan likuiditas perekonomian.

Selain itu, Ambruknya Wall Street juga menjadi perhatian pasar hari ini sebagai sentimen global.

Untuk sentimen dalam negeri, perhatian saat ini tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengelolaan sumber daya alam hingga rencana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kemudian, pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade, perkiraan peningkatan penyaluran kredit baru pada akhir tahun, serta program pemerintah untuk memperluas akses rekening bank menjadi perhatian.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data uang beredar September 2026 oleh Bank Indonesia (BI), setelah pertumbuhannya melambat selama dua bulan berturut-turut.

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengubah aturan penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tak luput dari perhatian investor. Mulai 2 November 2026, saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tak lagi masuk perhitungan IHSG.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, kebijakan ini bertujuan membuat indeks lebih mencerminkan dinamika pasar. Sebelumnya, hanya saham di Papan Akselerasi yang dikecualikan dari penghitungan IHSG.

Sementara sentimen dari global antara lain, pengumuman data inflasi Jepang di bulan September yang akan disampaikam pada Jumat pagi hari ini.

Inflasi tahunan Jepang meningkat menjadi 2,1% pada September 2026, naik dari 1,9% dalam dua bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Desember 2025, sekaligus menandai kembali naiknya inflasi inti di atas target Bank of Japan (BOJ).

Berdasarkan data Statistics Bureau of Japan, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan segar, tetapi tetap mencakup energi, mencapai 2,1% secara tahunan. Angka tersebut meningkat dari 1,7% pada Agustus dan menjadi yang tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. Realisasi ini juga sesuai dengan ekspektasi pasar.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Ambruk! Kapolri, Dasco hingga Rosan Mendadak Sambangi BEI


Most Popular
Features