Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Rp18.020 Pagi Ini

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Kamis, 22/10/2026 09:55 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali kehilangan tenaga terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (22/10/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,11% ke posisi Rp18.020/US$. Pelemahan tersebut melanjutkan pergerakan pada Rabu (21/10/2026), ketika rupiah ditutup turun 0,11% di level Rp18.000/US$ setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,716.


Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri.

Dari eksternal, koreksi indeks dolar AS sebenarnya membuka ruang bagi rupiah untuk menguat. Penurunan DXY menunjukkan permintaan terhadap dolar AS sedang berkurang, meski kondisi tersebut belum cukup membawa rupiah ke zona hijau pada pembukaan perdagangan.

Pelaku pasar tengah menimbang risiko kenaikan inflasi akibat tingginya harga minyak sekaligus menantikan keputusan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada pekan depan.

Pasar hanya memperkirakan peluang kecil bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Kenaikan berikutnya diperkirakan baru terjadi pada Desember.

Pasar juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS. Ketidakpastian mengenai waktu kenaikan bunga berikutnya membuat pergerakan dolar cenderung terbatas.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati langkah BI dalam menjaga rupiah sekaligus menarik kembali dana asing setelah perkembangan terbaru terkait MSCI.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral terus memantau arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Meski rupiah masih tertekan, BI menilai pergerakannya relatif sejalan dengan kondisi mata uang negara-negara kawasan.

"Kami melihat bahwa tekanan masih dalam relatif normal karena regional tidak baik. Kami waspadai di capital market kita, kami monitor outflow sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI," ujar Destry.

BI menempatkan stabilitas pasar keuangan sebagai prioritas utama. Bank sentral juga menyiapkan sejumlah langkah yang lebih terarah untuk menarik kembali aliran modal asing ke aset keuangan domestik.

Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui pemberian insentif pada transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Insentif itu dapat memangkas biaya lindung nilai atau hedging investor hingga 45%.

BI berharap penyesuaian harga pada Surat Berharga Negara (SBN), ditambah peningkatan insentif, dapat membuat selisih imbal hasil aset domestik terhadap aset berdenominasi dolar AS kembali menarik.

"Harapan bahwa pasar domestik kita terjadi repricing di SBN, kemudian ditambah insentif diperbesar, akan membuat spread aset domestik dengan USD menjadi menarik. Kami fokus dan targeted mendatangkan inflow," jelas Destry.

Selain menarik kembali dana asing, BI turut mengoptimalkan kebijakan likuiditas untuk mendukung kegiatan ekonomi. Penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2% diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Respons Cepat BI Jaga Rupiah & Pastikan Volatilitas Terjaga