MARKET DATA

Rupiah Ditutup Melemah 0,14%, Dolar AS Naik ke Rp17.850

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 September 2026 15:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (22/9/2026) di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi di tengah penantian pasar akan keputusan suku bunga Bank Indonesia. 

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,14% ke posisi Rp17.850/US$. Hasil ini lebih baik dibandingkan saat pembukaan, ketika rupiah terdepresiasi 0,20% ke level Rp17.860/US$.

Selepas pembukaan, pelemahan rupiah berlanjut hingga kurs dolar AS sempat menyentuh Rp17.896. Rupiah kemudian memangkas pelemahannya hingga 46 poin. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke posisi 100,481.

Perdagangan rupiah hari ini berlangsung saat Bank Indonesia (BI) memulai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa-Rabu (22-23 September 2026). Keputusan suku bunga acuan dijadwalkan diumumkan besok.

Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.

Jika BI kembali mempertahankan suku bunga, keputusan itu akan menjadi yang ketiga secara beruntun setelah BI Rate ditahan di level 5,75% pada RDG Juli dan Agustus.

Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai perhatian utama BI masih tertuju pada stabilitas pasar keuangan, terutama nilai tukar rupiah. Menurutnya, BI tetap dapat mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan lain sambil mempertahankan suku bunga.

"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, BI melonggarkan kebijakan makroprudensial dan meningkatkan efektivitas sistem pembayaran nasional," kata Juniman.

Sementara itu, pergerakan rupiah hari ini juga masih diwarnai oleh dinamika dolar AS di pasar global. Greenback masih mendapat angin segar setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga dan memberi sinyal peluang pengetatan lanjutan.

Menurut CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 55% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari sekitar 43% sepekan sebelumnya.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking! Rupiah Makin Lemah ke Rp17.370/ US$


Most Popular
Features