IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
Jakarta, CNBC Indonesia - IHSG mengakhiri perdagangan Selasa (20/10) dengan penguatan 5,65% ke level 5.278,99. Kenaikan indeks ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar, dengan BBRI (+9,84%), BBCA (+7,88%), dan TLKM (+16,38%) menjadi leading movers. Sebaliknya, BYAN (-3,86%), MORA (-6,87%), dan DCII (-1,14%) tercatat sebagai lagging movers.
Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,13 triliun, sementara secara keseluruhan pasar net sell mencapai Rp2,21 triliun. Dari sisi sektoral, seluruh 11 sektor berakhir di zona hijau. Sektor transportasi mencatat penguatan paling tinggi sebesar 8,55%.
Pergerakan bursa AS berlangsung variatif. Dow Jones naik 1,02% ke level 52.495, S&P 500 menguat 0,28% ke 7.712, sedangkan Nasdaq relatif datar dengan penurunan tipis 0,02% ke 26.424.
Penguatan IHSG terjadi setelah koreksi tajam pada perdagangan sebelumnya, di tengah aksi bargain hunting, rencana buyback sejumlah emiten dengan nilai sekitar Rp4,50 triliun, serta sentimen terkait reformasi transparansi pasar modal.
Rencana Danantara untuk menambah kepemilikan pada sejumlah saham BUMN, termasuk sektor perbankan, juga menjadi perhatian pasar di tengah sentimen terkait MSCI. Sejalan dengan IHSG, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing menguat 7,18% dan 9,65%.
Dari sisi emiten, ada PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) yang memperluas bisnis pengujian, inspeksi, dan sertifikasi atau testing, inspection, and certification (TIC) ke Vietnam. Perseroan membuka kantor cabang di negara tersebut yang juga dipersiapkan sebagai basis ekspansi ke Laos dan Kamboja.
Ekspansi tersebut menyasar sektor kehutanan, lingkungan, dan pertanian. MUTU menjalin nota kesepahaman atau MoU dengan Forestry Science Institute of South Vietnam (FSISV), sekaligus mengembangkan layanan inspeksi halal sebagai bagian dari diversifikasi bisnis.
Langkah ini sejalan dengan bisnis MUTU yang telah memiliki basis di bidang sertifikasi keberlanjutan, kehutanan, dan sawit. Pendapatan dari segmen tersebut tumbuh 7,33% secara tahunan menjadi Rp331,48 miliar pada 2025.
Ekspansi ke kawasan Indochina juga membuka peluang sumber pendapatan baru, seiring industri TIC global yang diproyeksikan mencapai sekitar US$290 miliar pada 2029. Namun, kontribusi ekspansi tersebut terhadap pendapatan MUTU belum dapat dihitung karena perseroan belum mengungkapkan target pendapatan maupun nilai investasi. Sebagai gambaran, laba bersih MUTU pada 1H26 tercatat sebesar Rp14,72 miliar.
Selanjutnya, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), melalui anak usahanya WIKA Kobe yang merupakan perusahaan patungan dengan PS Construction Co., Ltd. asal Jepang, mulai melakukan pengiriman perdana bantalan rel kereta beton pracetak untuk proyek Metro Manila Subway Project (MMSP) di Filipina.
Pengiriman melalui jalur laut tersebut dilakukan pada 22 September 2026. WIKA Kobe berperan sebagai pemasok bagi Colas Rail Philippines untuk Paket Kontrak CP106 yang mencakup E&M Systems and Track Works.
Kontrak yang berjalan hingga 2029 ini menjadi salah satu order ekspor WTON dan memberikan visibilitas pendapatan untuk sekitar tiga tahun ke depan. Manajemen menyebut proyek tersebut akan memberikan dampak terhadap pendapatan perseroan.
Order tersebut menjadi tambahan bagi kinerja WTON di tengah pendapatan 1H26 yang turun 5,51% YoY menjadi Rp1,48 triliun. Di sisi lain, laba bersih meningkat 9,14% YoY menjadi Rp4,75 miliar, didukung perbaikan margin. Besaran kontribusi proyek Metro Manila terhadap pendapatan belum dapat dihitung karena nilai kontrak belum diungkapkan.
Sementara itu, PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) akan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan 120,72 juta saham baru. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp25 per saham dan harga pelaksanaan Rp994 per saham.
Dari aksi korporasi tersebut, perseroan berpotensi memperoleh dana sekitar Rp120 miliar. Seluruh saham baru akan diserap oleh tiga pihak, yakni PT Harmoni Semesta Investama sebanyak 72,43 juta saham, PT Atlas Raya Abadi sebanyak 24,14 juta saham, serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebanyak 24,14 juta saham.
PT Harmoni Semesta Investama merupakan pihak terafiliasi dengan perseroan. Sementara itu, aksi korporasi ini akan menyebabkan kepemilikan pemegang saham publik terdilusi 3,78%, dari sebelumnya 19,99% menjadi 19,24%.
Rencana PMTHMETD tersebut telah memperoleh persetujuan dalam RUPS Independen pada 30 September 2026. Perseroan menjadwalkan penerbitan saham baru pada 28 Oktober 2026, kemudian pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 29 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
-
BUMI - Buy 133-135 | TP 138-143 | SL 126
-
DEWA - Buy 252-256 | TP 260-266 | SL 238
-
AADI - Buy 10900-10950 | TP 11200-11425 | SL 10300
-
ADRO - Buy 2380-2400 | TP 2430-2470 | SL 2270
-
BBCA - Buy 5150-5200 | TP 5300-5400 | SL 4910
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)