MARKET DATA

IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

CNBC Indonesia
05 October 2026 08:50
Mega Capital Sekuritas
Mega Capital Sekuritas
PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,46% ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10). Penguatan IHSG ditopang oleh saham BBCA yang naik 1,67%, DCII 3,66%, dan ASII 2,66%. Sebaliknya, AMMN turun 2,97%, MORA melemah 4,09%, dan BBRI terkoreksi 0,65%.

Investor asing mencatatkan net sell Rp1,31 triliun di pasar reguler, sementara secara keseluruhan pasar mencatatkan net sell sebesar Rp1,27 triliun. 

Dari 11 sektor yang tercatat di BEI, sebanyak tujuh sektor berakhir di zona hijau. Sektor teknologi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,51%, sedangkan sektor industri mengalami pelemahan terdalam sebesar 1,70%.

Di bursa Amerika Serikat, tiga indeks utama juga ditutup menguat. Dow Jones naik 0,4% ke level 51.176, S&P 500 menguat 0,73% ke 7.722, dan Nasdaq naik 1,19% ke 27.190. Saham GOTO mencatat technical rebound setelah empat sesi berturut-turut menyentuh batas bawah perdagangan harian. 

Sementara itu, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing menguat 0,60% dan 0,80%.

Dari sisi aksi korporasi, ada PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang terus memperluas bisnis di luar segmen utama gadget dan elektronik melalui Erajaya Food and Nourishment (EFN). Perseroan berencana menghadirkan merek donat asal Jepang, I'm Donut, pada kuartal IV 2026, setelah sebelumnya membuka gerai Oriental Kopi pada tahun ini.

Di sisi lain, ekspansi ritel elektronik rumah tangga Erablue juga terus berlanjut. Hingga Agustus 2026, Erablue telah memiliki 307 gerai, bertambah 126 gerai sejak awal tahun dan meningkat 172 gerai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga membidik kota lapis kedua di Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk ekspansi berikutnya.

Secara keseluruhan, ERAA telah membuka 399 gerai dan menutup 127 gerai sepanjang delapan bulan pertama 2026. Dengan demikian, jumlah gerai bertambah secara bersih sebanyak 272 gerai.

Ekspansi Erablue turut menunjukkan perkembangan kinerja operasional. Pendapatan Erablue tumbuh 88% secara tahunan sepanjang 8M26, sementara Same-Store Sales Growth (SSSG) secara kumulatif mencapai 14,90% YoY. Pertumbuhan SSSG bulanan juga meningkat dari 5,40% YoY pada Juli menjadi 7,90% YoY pada Agustus.

Sementara itu, PT Jababeka Tbk (KIJA), melalui anak usahanya Indocargomas Persada (IP), mengakuisisi 51% saham atau sebanyak 340,86 juta lembar saham PT Kawasan Industri Seafer (KIS) dari Seafer Lumina Capital. Transaksi yang dilakukan pada 1 Oktober 2026 tersebut bernilai Rp340,86 miliar dan membuat KIS menjadi entitas anak yang dikonsolidasikan oleh KIJA.

Melalui transaksi ini, KIJA memperoleh akses terhadap land bank KIS seluas sekitar 500,24 hektare di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kawasan tersebut telah berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2019 dan termasuk Kawasan Industri Prioritas, dengan fokus pada industri kimia, logam dasar, serta logistik maritim terintegrasi.

Kawasan KIS juga mencakup area yang diperuntukkan bagi manufaktur kendaraan listrik, pergudangan, hingga data center. Akuisisi tersebut sekaligus memperluas cakupan bisnis KIJA di Jawa Tengah dan melengkapi kawasan industri perseroan yang telah mencakup lebih dari 2.000 hektare di sisi barat Kendal, yang dikelola bersama Sembcorp. Adapun KIS berjarak sekitar 15-20 kilometer di sisi utara kawasan tersebut.

Dari sisi materialitas, nilai transaksi setara 4,39% dari ekuitas KIJA per 1H26 yang mencapai Rp7,77 triliun. Angka tersebut berada di bawah ambang 20%. Transaksi juga bukan merupakan transaksi afiliasi sehingga tidak memerlukan persetujuan RUPS.

Ada juga PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang tengah menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan alokasi dana maksimal Rp400 miliar yang berasal dari dana internal perseroan. Nilai tersebut belum mencakup biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya.

Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, apabila buyback dilakukan secara penuh, total aset AALI diproyeksikan turun menjadi Rp28,50 triliun dari sebelumnya Rp28,90 triliun. Sementara itu, total ekuitas diperkirakan menjadi Rp24,20 triliun dari Rp24,60 triliun.

Laba bersih periode berjalan dalam proforma tersebut tetap sebesar Rp1,10 triliun. Adapun laba per saham diproyeksikan meningkat menjadi Rp575 dari sebelumnya Rp571.

Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung maksimal tiga bulan, mulai 2 Oktober hingga 28 Desember 2026, melalui satu perusahaan efek di BEI. Aksi tersebut dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS berdasarkan kebijakan relaksasi OJK terkait kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, sebagaimana Surat OJK No. S-112/D.04/2026 tanggal 9 September 2026, POJK 13/2023, dan POJK 29/2023.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 

(ayh/ayh)
Next Article IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

Most Popular
Features