Pakar Ingatkan Efek MSCI ke Rupiah, Waspada Dana Kabur Bisa US$25 M

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Selasa, 20/10/2026 19:30 WIB
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan memperingatkan risiko pelemahan rupiah bertambah seiring meningkatnya ketidakpastian pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Menurut Anthony, aksi jual saham oleh investor asing sejak akhir pekan lalu berpotensi memicu arus keluar modal (capital outflow) yang turut menekan nilai tukar rupiah.

Dia memperkirakan rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp18.100-Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir pekan ini.


Namun, pada perdagangan Selasa (20/10/2026), rupiah justru ditutup menguat 0,28% ke posisi Rp17.980/US$.

Anthony mengutip proyeksi UBS yang memperkirakan potensi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia dapat mencapai US$19 miliar, baik dari dana pasif maupun dana aktif. Nilai tersebut setara dengan sekitar 13% dari kepemilikan asing di Indonesia.

Sebagai gambaran, sepanjang 2026 hingga pertengahan Oktober, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham sekitar US$6 miliar, bahkan sebelum pengumuman konsultasi MSCI tersebut.

"Pasar akan gonjang-ganjing tidak stabil selama periode konsultasi sampai 30 April 2027. Dalam periode itu, indeks sulit bangkit. Sambil menunggu perbaikan tata kelola bursa, investor asing cenderung melepas saham Indonesia," ujar Anthony dalam siaran pers, dikutip Selasa (20/10/2026).

Anthony menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi meluas melampaui pasar saham. Menurutnya, penurunan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat merembet ke pasar surat utang pemerintah dan instrumen Bank Indonesia (BI), mengingat investor asing juga memiliki eksposur pada kedua instrumen tersebut.

Dia turut menyoroti posisi utang luar negeri Indonesia yang mencapai US$459,3 miliar pada Agustus 2026. Nilai tersebut setara dengan sekitar 3,13 kali cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar US$146,5 miliar pada periode yang sama.

Menurut Anthony, apabila investor asing melakukan penjualan secara bersamaan di pasar saham dan surat utang, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi menguras cadangan devisa apabila bank sentral melakukan intervensi untuk meredam gejolak nilai tukar.

Dia mencontohkan tekanan di pasar keuangan pada September 2014 hingga September 2015, ketika cadangan devisa Indonesia turun US$9,4 miliar dan rupiah melemah 20,2%.

Sementara itu, saat tekanan pasar akibat pandemi Covid-19 pada Februari-Maret 2020, cadangan devisa tercatat turun US$10,7 miliar dalam satu bulan, sedangkan rupiah melemah 21,2%.

Anthony memperingatkan, jika aksi jual saham dan surat utang terus berlanjut, arus keluar modal asing berpotensi mencapai US$20 miliar-US$25 miliar.

"Jika penjualan saham dan surat utang pemerintah dan Bank Indonesia terus berlangsung, arus modal asing bisa keluar US$20-25 miliar dolar, bukan tidak mungkin rupiah anjlok dan tembus Rp20.000 hingga mendekati Rp22.000 per dolar AS," ujarnya.

Defisit transaksi berjalan ikut disorot

Anthony juga menilai tekanan terhadap rupiah dapat bertambah seiring melebar­nya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), yang disebutnya telah mencapai 3,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026.

Menurut dia, kombinasi potensi penjualan saham dalam skala besar, meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal, dan risiko utang luar negeri dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.

"Artinya, risiko rupiah tembus Rp20.000 per dolar AS bukan ilusi Indonesia menghadapi potensi penjualan saham berskala besar, kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat, dan risiko utang luar negeri yang makin tinggi," ujarnya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Anthony meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat tata kelola pasar modal secara efektif dan transparan.

Dia mendorong keterbukaan identitas pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner), pemeriksaan keterkaitan antarpemegang saham dalam penghitungan saham publik (free float), serta penindakan terhadap manipulasi perdagangan saham sebagai tindak pidana.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Anjlok 11% Dihantam MSCI, Apa Yang Dikhawatirkan Investor?