MARKET DATA

Pangkas Koreksi, IHSG Ditutup Melemah 3,64% ke Level 4.996

Redaksi,  CNBC Indonesia
19 October 2026 16:28
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas sebagian besar pelemahannya pada akhir perdagangan Sesi II Senin (19/10/2026). Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG berakhir melemah 3,64% atau turun 188,49 poin ke level 4.996,61. Sebelumnya IHSG tercatat sempat melemah 5,36% di titik terendah 4.907,37 pada perdagangan intraday hari ini.

IHSG mulai merangkak naik dan memangkas koreksi hingga sempat berhasil kembali ke atas level psikologis 5.000 pada sesi kedua. Level tertinggi harian tercatat di 5.012,87.

Aktivitas perdagangan terpantau tinggi. Total volume transaksi mencapai 34,07 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 25,13 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya, yang menunjukkan investor tetap aktif bertransaksi di tengah volatilitas pasar.

Mengutip Refinitiv, seluruh sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dicatatkan sektor barang baku, konsumer non primer, teknologi dn keuangan.

Adapun saham-saham yang menjadi pemberat IHSG adalah PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI),PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN).

Kejatuhan IHSG hari ini masih dipicu oleh pengumuman MSCI yang menyatakan tengah mempertimbangkan pemindahan Indonesia dari kategori emerging markets menjadi pasar berstatus standalone.

Jika terealisasi, status standalone berisiko memutus akses Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terhadap aliran modal internasional. Indonesia juga akan dikelompokkan bersama pasar standalone lain seperti Lebanon dan Zimbabwe.

Sebelumnya, pada Januari lalu, MSCI sempat mengancam menurunkan Indonesia ke status frontier market karena minimnya transparansi kepemilikan saham dan perilaku perdagangan. Namun, dalam pernyataan terbarunya, MSCI menilai kurangnya kemajuan dalam membenahi persoalan tersebut membuat penurunan ke status frontier pun tidak lagi mencerminkan seriusnya masalah yang ada.

Goldman Sachs memperkirakan, jika Indonesia benar-benar dikeluarkan dari indeks MSCI, arus keluar dana pasif bisa mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun. Sementara itu, dana aktif yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan memegang aset lebih dari US$8 miliar (Rp144 triliun), meski aksi jualnya bersifat diskresioner, bukan otomatis mengikuti indeks.

Hingga kini, investor asing telah mencatatkan jual bersih (net sell) saham Indonesia senilai US$4,88 miliar atau setara Rp87,84 triliun sepanjang 2026. Angka ini berpotensi menjadi arus keluar tahunan terbesar dalam setidaknya 16 tahun terakhir.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Lompat 1,09% Dekati Level 6.700 Terkerek Kinerja Saham Ini


Most Popular
Features