Diminta BEI Serok Saham Selamatkan IHSG, Ini Jawaban Bos Asuransi
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri asuransi diminta untuk menambah porsi kepemilikan saham di portofolionya untuk meredam tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dewan Asuransi Indonesia (DAI) pun buka suara terkait hal ini.
Ketua Umum DAI Yulius Bhayangkara menegaskan bahwa perusahaan asuransi tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi, termasuk ketika menambah investasi di pasar saham.
Yulius mengatakan, perusahaan asuransi diperbolehkan berinvestasi di saham untuk mengoptimalkan keuntungan, tetapi harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian atau prudential. Menurut dia, investasi saham memang berpotensi memberikan keuntungan besar, tetapi juga memiliki risiko yang tinggi seiring dengan pergerakan harga di pasar.
Dia menambahkan, penerapan mekanisme lindung nilai atau hedging yang tepat dapat membantu perusahaan mengelola dampak volatilitas pasar saham terhadap portofolio investasinya. Namun, keputusan untuk menerapkan mekanisme tersebut tetap bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan asuransi.
"Arahan saya adalah silahkan (kalau mau membeli saham) tapi tetap hati-hati. Pasalnya, tugas asuransi adalah memastikan asset liability management," pungkas Yulius dalam Konferensi Pers Hari Asuransi 2026, di Graha AAJI, di Jakarta, Selasa, (20/10/2026).
Menurut dia, perusahaan asuransi harus memastikan ketersediaan dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim ketika nasabah mengajukan pencairan manfaat. Karena itu, penambahan investasi saham tidak boleh sampai mengganggu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban tersebut.
"Jangan sampai kita mau naikin, taruh di saham karena usulan dari pemerintahan dan segala macam, begitu ada klaim, kita nggak punya uang. Kan tugas terpenting kita sebagai asuransi justru bisa bayar klaim," tambahnya.
Sebelumnya, BEI meminta investor institusi domestik, termasuk dana pensiun dan perusahaan asuransi, untuk lebih aktif berinvestasi di pasar saham. Langkah tersebut diharapkan dapat menopang IHSG yang mengalami tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai fundamental pasar modal Indonesia masih kuat sehingga dapat menjadi peluang bagi investor institusi domestik. Dia pun mengimbau kelompok investor tersebut untuk meningkatkan partisipasi di pasar modal nasional.
"Kami tentu menghimbau investor institusi domestik kita untuk berpartisipasi lebih aktif di pasar modal kita. Pasar modal kita fundamentalnya kuat, ya tentu akan menjadi prospek yang baik bagi investor, khususnya investor institusi domestik kita," ujar Jeffrey di Pressroom BEI, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, Jeffrey mengakui BEI belum menggelar pertemuan khusus dengan satu atau dua institusi tertentu untuk membahas kondisi pasar saat ini. Bursa sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak secara umum.
Imbauan tersebut muncul setelah IHSG mengalami tekanan jual besar pada Jumat (16/10/2026), ketika indeks anjlok 11,57% dalam sehari. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi harian terdalam IHSG sejak krisis keuangan 1998.
Tekanan pasar terjadi setelah MSCI membuka periode konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Periode konsultasi berlangsung mulai 15 Oktober 2026 hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]