Fitch Ikut Soroti MSCI, Status Pasar RI Bisa Bebani Rating Utang
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperingatkan bahwa melemahnya kepercayaan investor dan memburuknya tata kelola pasar modal dapat menambah tekanan terhadap peringkat utang Indonesia.
Direktur dalam tim Sovereign Fitch Ratings, George Xu, menilai gejolak pasar terbaru semakin menegaskan sejumlah risiko yang sebelumnya telah disoroti lembaganya, mulai dari kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, hingga tata kelola pasar modal.
Risiko tersebut muncul di tengah kecenderungan semakin terpusatnya kewenangan pengambilan kebijakan. Faktor-faktor itu pula yang melatarbelakangi keputusan Fitch pada Maret 2026 untuk mengubah outlook peringkat utang Indonesia pada level 'BBB' menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Meski demikian, Fitch tidak memperkirakan pengumuman konsultasi mengenai klasifikasi pasar Indonesia akan langsung menimbulkan dampak material terhadap profil kredit negara.
"Dari perspektif peringkat utang negara, kami tidak memperkirakan pengumuman konsultasi (MSCI) itu sendiri akan menimbulkan dampak material secara langsung terhadap kredit Indonesia," ujar Xu dalam pernyataan tertulisnya.
Namun, Fitch mengingatkan potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) dapat semakin membebani sentimen investor yang saat ini sudah rapuh.
"Potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) dapat semakin membebani sentimen investor yang sudah rapuh," ungkap Fitch.
Fitch memperkirakan pemerintah akan memperkenalkan langkah-langkah tambahan untuk memperbaiki tata kelola dan fungsi pasar modal dalam beberapa pekan mendatang. Kendati demikian, langkah tersebut dinilai belum tentu cukup untuk menghilangkan kehati-hatian investor.
Efektivitas dan konsistensi pelaksanaan reformasi pasar juga masih harus dibuktikan.
Cadangan Devisa dan Intervensi BI Jadi Sorotan
Di tengah tekanan pasar, Fitch menilai Indonesia masih memiliki sejumlah penyangga untuk menghadapi gejolak eksternal. Salah satunya adalah cadangan devisa yang mencapai US$146,3 miliar pada akhir kuartal III-2026.
Cadangan devisa tersebut memberikan kapasitas bagi otoritas untuk mendukung stabilitas rupiah. Pemerintah juga masih memiliki beragam instrumen kebijakan untuk menarik kembali modal asing.
Namun, Fitch menyoroti konsekuensi intervensi valuta asing (valas) yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Intervensi tersebut menggunakan cadangan devisa sekaligus menyerap likuiditas rupiah, sehingga memperketat kondisi pendanaan di dalam negeri.
Fitch juga mencatat posisi bersih valas BI yang bersifat short meningkat secara bertahap dan telah melampaui US$32 miliar pada akhir Agustus 2026. Posisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan likuiditas valas pada masa mendatang ketika kewajiban terkait jatuh tempo.
Menurut Fitch, tekanan eksternal yang berlanjut dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan mengikis penyangga eksternal Indonesia.
"Posisi ini melampaui US$32 miliar pada akhir Agustus dan dapat meningkatkan kebutuhan likuiditas valas di masa mendatang ketika kewajiban tersebut jatuh tempo.
Tekanan eksternal lebih lanjut dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan mengikis penyangga eksternal," kata Xu.
Lebih jauh, Fitch menilai penurunan cadangan devisa yang tajam dan berkelanjutan akibat melemahnya kepercayaan investor atau memburuknya tata kelola dapat menambah tekanan terhadap peringkat utang negara.
FDI Bisa Terpukul, Pertumbuhan Ekonomi Terancam
Risiko terhadap peringkat utang juga dapat merembet ke prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.
Fitch memperingatkan, apabila kepercayaan investor yang melemah secara signifikan menghambat arus masuk investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI), kondisi tersebut dapat membebani prospek pertumbuhan sekaligus memperburuk profil kredit Indonesia.
Fitch menilai peringkat utang Indonesia selama ini ditopang oleh rekam jejak dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang tangguh, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, serta penyangga eksternal yang memadai.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor struktural yang masih membatasi profil kredit Indonesia.
"Meski demikian, penerimaan pemerintah yang rendah, biaya pembayaran utang yang tinggi, aspek struktural yang tertinggal seperti tata kelola, serta ketidakpastian mengenai potensi aktivitas kuasi-fiskal masih menjadi faktor yang membatasi profil kredit negara Indonesia," ujar Xu.
Dengan demikian, Fitch menilai kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor, memperbaiki tata kelola pasar, dan mempertahankan penyangga eksternal akan menjadi faktor penting dalam menjaga profil kredit Indonesia ke depan.
(haa/haa)