Breaking, IHSG Anjlok 4% Lebih Balik ke Level 4.900
Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (19/10/2026) dibuka anjlok tajam. Pada pembukaan perdagangan sesi I hari ini IHSG langsung anjlok 4,31% ke level 4.961,87 turun 223 poin poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Adapun total volume perdagangan tercatat 1,17 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,04 triliun yang berpindah tangan 80.236 kali. Sebanyak 602 saham melemah, 88 stagnan dan hanya 64 yang menguat.
Pasar keuangan Indonesia masih akan dibayangi sejumlah sentimen negatif dari luar negeri, mulai dari pengumuman terbaru MSCI, memansnya inflasi AS hingga perang.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan setelah kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan dan pelemahan rupiah pada akhir pekan lalu.
Perhatian investor akan tertuju pada perkembangan isu MSCI, langkah penegakan aturan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pekan ini.
Dari eksternal, ketegangan di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Selain itu, China akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dan keputusan suku bunga pinjaman acuannya.
Pasar saham Indonesia memasuki pekan baru dengan tekanan yang cukup berat. Setelah IHSG anjlok lebih dari 11% pada Jumat pekan lalu, kekhawatiran kini muncul mengenai kemungkinan indeks kembali jatuh pada perdagangan Senin ini.
Tekanan ini tidak lepas dari pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan belum menjadi keputusan final. MSCI memberikan kesempatan kepada pelaku pasar untuk menyampaikan tanggapan hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhirnya akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat (16/10/2026).
MSCI menilai terdapat sejumlah persoalan yang perlu diperbaiki agar Indonesia tetap memenuhi persyaratan sebagai pasar berkembang. Beberapa di antaranya menyangkut transparansi struktur kepemilikan saham, kemudahan investor untuk berinvestasi, serta kekhawatiran mengenai dugaan praktik perdagangan saham yang terkoordinasi.
Status Standalone Market sendiri merupakan klasifikasi yang menempatkan pasar saham suatu negara di luar kelompok utama MSCI, yakni Developed Market, Emerging Market, dan Frontier Market.
Jika Indonesia benar-benar turun ke kategori tersebut, saham-saham domestik tidak lagi menjadi bagian dari indeks utama MSCI Emerging Markets. Padahal, indeks ini banyak digunakan pengelola dana investasi global sebagai acuan.
Kondisi tersebut berisiko mendorong keluarnya dana asing, terutama dari investor yang mengikuti indeks MSCI. Berkurangnya aliran dana juga dapat membuat aktivitas perdagangan saham semakin sepi dan tekanan terhadap harga saham bertambah besar.
(fsd/fsd)