IHSG Ditutup Menguat 0,39% ke Level 5.948

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 14/10/2026 16:05 WIB
Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini, Rabu (14/10/2026) di zona hijau. IHSG ditutup di level 5.948,83, naik 22,85 poin atau 0,39%.

Penguatan IHSG sudah berlangsung sejak tadi pagi, pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka di level 5.940,68. Setelah sempat tertekan ke kisaran 5.920 di awal perdagangan, bahkan indeks berbalik menguat dan mencapai level tertinggi harian di 6.009,96 menjelang pukul 10.30 WIB.

Namun, penguatan IHSG di level 6.000 tersebut tidak bertahan. IHSG terkoreksi secara bertahap dan sempat turun tajam di sekitar pukul 11.00 WIB, hingga bergerak di kisaran 5.940 hingga 5.960 pada sisa perdagangan. Adapun level terendah hari ini berada di 5.906,74.


Aktivitas perdagangan sepanjang hari mencatat volume sekitar 259,48 juta lot dengan nilai transaksi Rp8.054,97 miliar atau sekitar Rp8,05 triliun.

Penguatan IHSG hari ini didorong oleh 291 saham menguat, meskipun 342 saham melemah, dan 330 saham tak bergerak.


Sementara mengutip Refinitiv, sektor-sektor saham yang mendukung penguatan IHSG hari ini berasal dari sektor properti yang meroket 2,09%, disusul oleh sektor keuangan yang naik 0,7%, dan sektor konsumer non kritikal naik 0,4%.

Adapun saham-saham pengungkit IHSG hari ini antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).

Sementara saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT. Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS).

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia diharapkan sedikit mereda pada hari ini. Melemahnya indeks dolar dan imbal hasil US treasury menjadi kabar baik.

Namun, banyaknya data yang dirilis hari ini bisa membuat pasar keuangan bergerak labil.
Berikut beberapa penggerak sentimen hari ini:

1. Dolar AS dan Yield Treasury Kompak Melemah

Indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) US Treasury kompak melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), seiring investor mencermati perkembangan pasar global dan menantikan data inflasi Amerika Serikat (AS).

Indeks dolar AS turun 0,37% ke level 102,18, turun dari posisi tertinggi dalam 18 bulan. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 2,3 basis poin menjadi 5,217%.

Pelemahan dolar dan yield obligasi dipengaruhi penurunan harga minyak serta meredanya tekanan jual di pasar obligasi. Meski demikian, kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga energi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pasar.

Investor kini menantikan data inflasi AS yang dijadwalkan rilis Rabu (14/10/2026) untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pergerakan dolar dan yield Treasury menjadi perhatian pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, dan pasar obligasi domestik.

Melemahnya indeks dolar menandai investor tengah menjual instrumen berdemoninasi dolar AS sehingga ada pergerakan dana ke Emerging Markets seperti Indonesia.

2. IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Global

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026, melambat dibandingkan realisasi pertumbuhan 3,5% pada 2025. Meski demikian, proyeksi tersebut naik 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026.

Dalam WEO edisi Oktober 2026 yang dirilis Selasa (13/10/2026), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global kembali meningkat menjadi 3,4% pada 2027.

Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum melandai ke 4,1% pada 2027. IMF juga memperingatkan negara-negara berkembang berpendapatan rendah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang Iran. Negara-negara pengimpor minyak dengan beban utang besar memiliki ruang fiskal terbatas untuk melindungi masyarakat dari dampak krisis.

3. Inflasi China

China akan mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode September 2026 pada hari ini, Rabu (14/10/2026).

Sebagai catatan, IHK China naik atau mengalami inflasi secara tahunan sebesar 0,8% pada Agustus 2026, dari 0,5% pada Juli yang merupakan level terendah dalam enam bulan. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan biaya transportasi, pakaian, layanan kesehatan, serta pendidikan, serta biaya perumahan.

Di sisi pangan, harga turun selama lima bulan berturut-turut. Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, meningkat menjadi 1,0% secara tahunan dari 0,9% pada Juli. Secara bulanan, harga konsumen naik 0,4% pada Agustus 2026, melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3% dan berbalik dari deflasi 0,1% pada Juli.

Pada hari yang sama, China juga akan mengumumkan data inflasi produsen untuk September 2026.

4. Neraca dagang China

Pada hari ini, Rabu (14/10/2026), China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026. Data ini sangat penting bagi Indonesia mengingat Tiongkok adalah mitra dagang terbesar buat Indonesia.

Jika impor China naik maka ada harapan peningkatan permintaan barang dari Indonesia.

Sebagai catatan, surplus perdagangan China melebar menjadi US$119,09 miliar pada Agustus 2026, naik dari US$101,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor China melonjak 25% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$401,44 miliar, setelah tumbuh hampir 24% pada Juli. Peningkatan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global yang terus mendorong perdagangan di Asia.

Sementara itu, impor China meningkat 28,2% menjadi US$282,36 miliar. Angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar, tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 27,5% pada Juli.

5. Inflasi Amerika Serikat

Dunia menunggu data penting dari AS pada hari ini Rabu (14/10/2026) yakni inflasi September 2026 Data ini menjadi salah satu pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Jika inflasi naik maka The Fed diperkirakan akan segera kembali mengerek suku bunga.

Sebagai catatan, inflasi tahunan AS pada Agustus 2026 bertahan di 3,4%, sama seperti Juli dan sesuai perkiraan pasar.

Secara bulanan, inflasi AS naik 0,4%, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan terutama dipicu harga bensin.

Sementara itu, inflasi inti (core CPI) naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada Juli dan perkiraan pasar. Namun, secara tahunan, inflasi inti melambat menjadi 2,4% dari 2,5%, terendah sejak Maret 2021.


(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Jeblok ke Bawah 6.000, Sentimen Ini Jadi Penekan!