Breaking News! IHSG Lompat 1% Pagi Ini
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melesat pada pembukaan perdagangan Kamis (20/8/2026). IHSG menguat lebih dari 1% pada awal perdagangan, melanjutkan sentimen positif dari pasar global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.01 WIB, IHSG berada di level 6.460,28, menguat 66,15 poin atau 1,03% dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.394,13.
Penguatan IHSG juga tercermin dari luasnya pergerakan saham. Sebanyak 363 saham menguat, sementara 105 saham melemah dan 495 saham lainnya stagnan.
Pada awal perdagangan, nilai transaksi saham telah mencapai Rp409,3 miliar dengan volume perdagangan sekitar 884,1 juta saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 66.130 kali. Kapitalisasi pasar BEI pada awal perdagangan tercatat sekitar Rp11.335 triliun.
Adapun pada perdagangan IHSG hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, investor mencermati keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75% dalam RDG 18-19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan Deposit Facility 5% dan Lending Facility 6,5%. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dari eksternal, sentimen pasar cenderung mendapat dorongan dari penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS. Yield Treasury tenor panjang melandai setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Indeks dolar AS turun 0,84% ke 98,83, yang berpotensi memberikan ruang bagi penguatan rupiah dan mengurangi tekanan terhadap SBN.
Namun, investor tetap mencermati risalah FOMC yang menunjukkan inflasi AS masih tinggi. Sejumlah pejabat The Fed bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak kunjung turun. Sentimen tersebut menjadi penting di tengah desakan Presiden AS Donald Trump agar The Fed memangkas suku bunga.
Dari pasar komoditas, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. WTI naik 0,77% menjadi US$85,59 per barel dan Brent menguat 0,44% menjadi US$91,42 per barel.
Sementara di Asia, investor menanti data neraca perdagangan Jepang Juli serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) China. Pasar memperkirakan LPR 1 tahun China tetap di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Data Jepang juga menjadi perhatian karena kuatnya impor dan ekspor dapat memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan regional, termasuk potensi permintaan terhadap produk Indonesia.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]