IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Selasa, 13/10/2026 09:41 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah, anjlok diatas 1% pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Bahkan indeks acuan pasar saham Indonesia sempat di level 5.832,76, turun 103,39 poin atau 1,74%. Volume perdagangan tercatat 123,95 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp2.644,42 miliar.

Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan tekanan jual yang cukup konsisten. Indeks dibuka di level 5.914,98, lalu mencapai titik tertinggi di 5.918,29 pada awal sesi. Setelah itu, indeks cenderung melemah dan sempat turun ke posisi terendah di 5.831,79, tidak jauh dari level terakhirnya. Artinya, IHSG bergerak mendekati titik terendah hariannya dan belum menunjukkan tanda pemulihan yang berarti.

Jika dilihat dari grafik intraday, penurunan terjadi bertahap. Setelah turun tajam di awal perdagangan, IHSG sempat mencoba rebound ke area 5.910, tetapi tidak mampu bertahan. Indeks kembali tertekan dan kembali melemah.


Penyebab runtuhnya IHSG hari ini karena pelemahan sejumlah sektor. sektor pemberat indeks berasal dari sektor keuangan yang anjlok 1,05%, disusul oleh sektor material dasar yang melemah 0,89%, dan sektor teknologi yang turun 0,84%.

Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), dan PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT. Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT. Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO) , PT. Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk. (BIKE), dan PT. Petrosea Tbk. (PTRO).

Setelah babak belur pada perdagangan kemarin, pasar keuangan Indonesia kemungkinan masih dihadapkan pada banyaknya tekanan hari ini.

Gonjang-ganjing mengenai MSCI, memanasnya perang hingga pertemuan Dana Moneter Internasional (IMG) akan menjadi penggerak pasar hari ini:

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Houthi Hujani Arab Saudi dengan Rudal dan Drone

Arab Saudi kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi Yaman pada Senin (12/10/2026). Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan ancaman serangan baru di tengah eskalasi konflik yang meluas dari perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Houthi juga terus menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur Saudi, memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik Yaman untuk menekan Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak. Namun, pasukan yang didukung Riyadh masih menghadapi perlawanan di sejumlah front.

Di tengah konflik, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Houthi dan Arab Saudi. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penguatan kerja sama keamanan dan pertahanan negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda AS melancarkan operasi militer.

2. Harga Minyak Naik, Indeks Dolar Melonjak

Harga minyak dunia naik hampir US$2 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026). Serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan, mengalahkan sentimen tambahan pasokan minyak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan peningkatan ekspor diesel Rusia dan gencatan senjata Rusia-Ukraina untuk serangan terhadap infrastruktur energi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik US$1,93 atau 1,8% ke level US$106,65 per barel, tertinggi sejak 15 September. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,89 atau 2% menjadi US$93,74 per barel.

3. Isu MSCI

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai, sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan IHSG. Pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan pada semester II-2027.

"Isu-isu di market masih berkaitan dengan MSCI," ujar Desy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/2026).



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: G7 Lepas Cadangan Minyak-Harga Batu Diramal Bisa Tembus USD 200