Konflik Timur Tengah Bayangi Harga Minyak, Brent Masih di Atas US$100
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), setelah sebelumnya melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski terkoreksi, harga minyak Brent masih bertahan di atas US$100 per barel.
Merujuk data Refinitiv pada Selasa (13/10/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent tercatat US$105,52 per barel, melemah 1,06% dibandingkan harga penutupan Senin (12/10/2026) sebesar US$106,65 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$92,61 per barel, turun 1,21% dari harga penutupan sebelumnya sebesar US$93,74 per barel.
Pelemahan terjadi setelah harga minyak melonjak hampir US$2 per barel pada perdagangan Senin, dipicu serangan terhadap sebuah bandara di Arab Saudi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Meski mengalami koreksi, harga minyak masih berada pada level tinggi di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perkembangan perang Rusia-Ukraina.
Konflik Timur Tengah Bayangi Pasokan Minyak
Mengutip Reuters, pasar minyak kembali menghadapi volatilitas akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari serangan di Arab Saudi. Di sisi lain, pelaku pasar juga mempertimbangkan potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia.
Perkembangan tersebut membuat investor terus mencermati arah konflik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, terutama dampaknya terhadap distribusi dan ketersediaan energi global.
Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, mengatakan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi perhatian utama pasar ketika dampaknya mulai menjalar terhadap inflasi.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi, sehingga turut membebani pasar saham global.
Tekanan tersebut terlihat pada perdagangan saham Asia, Selasa (13/10/2026). Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 2% pada awal perdagangan, sementara indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 6% dan Nikkei Jepang melemah 2,6%.
Harga Energi Tinggi Jadi Risiko Inflasi
Tingginya harga minyak juga menjadi perhatian menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan laporan keuangan perusahaan pada pekan ini.
Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan produksi, yang pada akhirnya berpotensi mendorong tekanan harga barang dan jasa.
Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), terutama ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS berada di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat sekitar 5,214% pada perdagangan Asia, tidak jauh dari level tertinggi 24 tahun sebesar 5,364% yang disentuh pekan sebelumnya.
Bagi Indonesia, harga minyak dunia yang bertahan tinggi perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan biaya impor energi dan memberikan tekanan terhadap inflasi, terutama apabila penguatan harga berlangsung berkepanjangan.
(slm/slm)