Usai IHSG Terbang 1%, Simak 5 Rekomenasi Saham Pilihan Ini

, CNBC Indonesia
Senin, 12/10/2026 08:55 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04% ke level 6.093,76 pada perdagangan Jumat (9/10). Penguatan indeks ditopang oleh saham BBRI yang naik 2,31%, AMMN 4,01%, dan TLKM 2,65% sebagai leading movers. Sebaliknya, BYAN turun 4,07%, GEMS melemah 9,97%, dan TINS terkoreksi 2,41%.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp141,50 miliar di pasar reguler, sementara secara keseluruhan pasar membukukan net buy Rp29,63 miliar. 

Dari sisi sektoral, 10 dari 11 sektor berakhir di zona hijau. Sektor Basic Industry mencatat penguatan tertinggi sebesar 1,67%, sedangkan sektor Property menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan 0,16%.


Di pasar saham Amerika Serikat (AS), indeks utama juga ditutup menguat. Dow Jones naik 0,83% ke level 51.654, S&P 500 menguat 0,59% ke level 7.811, dan Nasdaq naik 0,64% ke level 27.366. Pergerakan tersebut mencerminkan technical rebound setelah koreksi tajam sebelumnya, seiring dengan kenaikan ETF EIDO sebesar 1,89% dan MSCI Indonesia sebesar 1,40%.

Dari sisi emiten, ada PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) yang memperoleh kontrak jasa transportasi batu bara dari Ade Putra Tanrajeng, anak usaha Kutai Bara Nusantara, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp2,20 triliun. Kontrak tersebut berlaku hingga 2030 dengan periode sekitar empat tahun.

Kontrak ini memberikan visibilitas pendapatan multi-tahun bagi MAHA, dengan nilai rata-rata sekitar Rp550 miliar per tahun atau setara sekitar 17% dari estimasi pendapatan tahunan perseroan. Perolehan kontrak juga memperkuat portofolio dan basis pelanggan MAHA sebagai salah satu penyedia jasa angkutan batu bara terbesar di Indonesia.

Kontrak tersebut melanjutkan kinerja positif MAHA pada semester I 2026. Pendapatan perseroan tumbuh 34,13% secara tahunan menjadi Rp1,65 triliun, dibandingkan Rp1,23 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih meningkat 1.002,01% secara tahunan menjadi Rp142,13 miliar dari Rp12,90 miliar.

Meski demikian, kontribusi aktual dari kontrak tersebut tetap bergantung pada realisasi pekerjaan serta ketentuan operasional yang berlaku.

Selanjutnya, PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) tengah mengungkapkan perkembangan kegiatan eksplorasi pendalaman melalui dua anak usahanya. Hingga September 2026, belanja eksplorasi terkonsentrasi di Insani Baraperkasa (IBP) pada Sub Blok Handil Bakti dengan nilai US$2,92 juta atau sekitar 98,55% dari total pengeluaran.

Sementara itu, eksplorasi melalui Loa Haur di Blok Utara tercatat sebesar US$0,04 juta. Kegiatan eksplorasi tersebut cenderung bersifat sustaining, mengingat IBP memiliki cadangan sebesar 139,26 juta ton dan sumber daya mencapai 565,66 juta ton. Angka tersebut masih jauh di atas produksi batu bara perseroan pada 2025 yang berada di kisaran 3,58 juta ton.

KKGI juga menyiapkan sejumlah pengembangan lanjutan, termasuk pemetaan dan pembebasan lahan di Blok Loajanan serta kajian pengeboran dan pinjam pakai area di Blok Separi.

Dari sisi fundamental, kinerja 1H26 ditopang perbaikan margin, di mana meski pendapatan nyaris flat -1.23% YoY menjadi USD 70.34mn, laba bersih melonjak +109.61% YoY menjadi USD 2.16mn seiring laba kotor yang naik +28.51% YoY, didukung posisi kas yang kuat USD 44.67mn.

Di sisi lain, PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi (BIKE) resmi mengakuisisi 72% saham Berau Usaha Mandiri (BUM) melalui anak usahanya, Prambanan Nusantara Energi (PNE). Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi dan diversifikasi usaha BIKE ke sektor energi dan pertambangan.

BUM menguasai area konsesi tambang batu bara sekitar 500 hektare di Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Dari sekitar 400 hektare area yang telah dieksplorasi, BUM memiliki cadangan terbukti sekitar 22 juta metrik ton. Manajemen menargetkan tingkat produksi sekitar 1,5 juta hingga 2,5 juta metrik ton per tahun.

Akuisisi BUM menjadi bagian dari fokus pengembangan BIKE yang mencakup lima pilar, yakni penguatan bisnis eksisting, perluasan lini usaha baru, pengembangan bisnis berbasis energi dan teknologi, sinergi kelompok usaha, serta penguatan struktur pendanaan.

BIKE menyampaikan bahwa sejumlah rencana ekspansi lainnya masih berada dalam tahap evaluasi. Kajian tersebut mencakup kelayakan usaha, struktur pendanaan, perizinan, serta pemenuhan ketentuan regulasi sebelum rencana tersebut direalisasikan.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 


(ayh/ayh)